Kini ... di tempatnya Sakha memandang dalam tidur terlentang, jemari kiri yang diikat oleh cincin pertunangan. Senyum, Sakha pun berdeham lantaran senyum itu sudah berlangsung lama dan semakin terkesan mau edan. Ehm. Rasanya begitu mendebarkan. Sakha hendak terpejam, tapi sialan kelopak mata inginnya tetap terjaga dengan kejam, membuat otak Sakha main-main ke berbagai destinasi j*****m. Wajar, kan? Selain karena dia adalah laki-laki yang gemar berfantasi, tapi usia, kondisi, serta karakter mendukungnya untuk berpikiran jauh pada adegan tralala-trilili. Bayangin aja dulu, bayangin. Yang sekarang Sakha peluk itu guling, nah ... bulan depan guling itu akan Sakha kremasikan sebab ada Naya sebagai pengganti kehidupan guling-guling yang selama ini menemani kesendirian Sakha kala malam. Akan