Tidak ada kebetulan di dunia ini. Entah mengapa, itulah yang terlintas di kepala Olivia ketika melihat sosok pria di hadapannya untuk ketiga kalinya.
Meskipun tak sepenuhnya benar, tapi insiden tabrakan tersebut memang telah direncanakan oleh Delwyn. Awalnya, pria itu tak berniat untuk melakukan itu. Tapi, ketika ia tanpa sengaja melihat Olivia dari kejauhan, jadilah ide itu timbul di kepala Delwyn.
“Maaf,” ucap Olivia acuh kemudian langsung beranjak dari sana.
“Eh, tunggu!” seru Delwyn sembari menahan lengan Olivia. “Kau tidak apa-apa? Sepertinya tadi aku menabrakmu dengan cukup keras.”
“Tidak apa-apa,” jawab Olivia kemudian melepas genggaman tangan Delwyn darinya lalu pergi dari sana tanpa memberi kesempatan pada pria itu untuk mencegahnya lagi. Sepeninggal Olivia, Delwyn langsung mendecak lantaran rencananya yang gagal.
“Aneh. Biasanya, wanita mana pun pasti akan langsung terpesona padaku. Tapi, kenapa yang ini tidak?” gumam Delwyn dengan kening mengerut.
“Ah! Aku lupa. Dia sedang memainkan triknya padaku,” cibirnya kemudian terkekeh kecil seraya menggeleng-gelengkan kepala.
“Tapi, aku semakin penasaran. Sampai kapan dia akan terus berpura-pura setiap melihatku.” Delwyn menyeringai.
“Hei!” seru Tala sembari menepuk pundak Delwyn yang membuat pria itu terperanjat kaget.
“Kamu mengejutkanku,” keluh Delwyn yang tengah mengelus dadaanya yang berdebar kencang karena terkejut.
“Cih! Dasar lemah. Kau seorang pria, tapi cepat sekali terkejut,” cibir Tala.
“‘Kau’? Lihat, pada siapa kamu bicara?” tegur Delwyn sembari menjewer telinga Tala yang membuat gadis itu meringis sakit.
“Aw! Aw! Sakit! Sakit! Sakit! Lepaskan tanganmu!” keluh Tala seraya memukul-mukul tangan Delwyn.
“Mengaku salah?” tanya Delwyn.
“Iya, iya, iya. Aku salah. Aku salah. Aku minta maaf. Sekarang lepaskan tanganmu! Telingaku sakit!” seru Tala.
Delwyn pun menurut, melepaskan jewerannya di telinga gadis itu. Begitu terlepas, Tala langsung mengusap-usap telinganya yang terasa sakit.
“Dasar kejam! Padahal kita hanya berdua. Tidak ada yang mendengarnya,” keluh Tala.
“Mau di depan umum atau hanya ada kita berdua, tidak pantas kamu bicara begitu padaku. Aku ini Kakak-mu. Lain kali, aku akan memberimu hukuman kalau mengulanginya. Mengerti?” omel Delwyn.
“Iya, iya. Dasar cerewet,” cibir Tala. “Omong-omong, apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya yang seketika membuat Delwyn gelagapan.
“Aku .... Oh! Tadi aku kebetulan bertemu temanku di sini. Dia baru saja pergi,” jawab Delwyn sepenuhnya berbohong.
“Teman? Teman yang mana?” tanya Tala.
“Teman sekolahku dulu. Kamu tidak mengenalnya,” jawab Delwyn.
“Pria atau wanita?” tanya Tala.
“Pria,” jawab Delwyn. “Sudah. Ayo, pergi. Nanti Aunty mencari kita,” ajaknya kemudian langsung menarik Tala pergi dari sana.
-------
Olivia menutup pintu dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan sang nenek. Madeline merupakan orang yang sangat sensitif. Mendengar suara sekecil apa pun, ia akan langsung terbangun dari tidurnya.
Hari ini, Olivia pulang telat akibat insiden salah seorang wali pasien mengalami serangan jantung kemarin. Dan jika ketahuan oleh Madeline, ia akan menerima omelan sang nenek karena pulang telat.
Seusai menutup pintu, perjuangan Olivia masih cukup panjang. Ia harus melangkah dengan sangat hati-hati dan pelan melewati ruang tamu, menaiki tangga, lalu masuk ke dalam kamarnya.
Namun, baru saja Olivia hendak menginjakkan kaki di anak tangga, sebuah suara tiba-tiba terdengar di tengah kegelapan ruang tamu. Membuat kaki Olivia melayang di udara dengan kaku.
“Kenapa baru pulang jam begini?”
Olivia lalu menoleh ke arah sofa, menyipitkan kedua mata dan baru menyadari bahwa Madeline duduk di sana. Seketika, Olivia merutuki dirinya kemudian memasang senyum polos seperti tidak ada yang terjadi. Ia pun menyalakan lampu lalu menghampiri sang nenek.
“Apa yang Nenek lakukan di sini? Kenapa belum tidur?” tanya Olivia.
“Menangkap basah pencuri,” jawab Madeline.
“Hah? Pencuri? Ada pencuri yang masuk ke rumah?” tanya Olivia panik dan khawatir. “Tapi, Nenek tidak apa-apa, ‘kan? Nenek terluka? Di mana pencurinya?” cecarnya.
“Di sini pencurinya,” ucap Madeline seraya menjewer telinga Olivia yang membuat gadis itu meringis sakit dan memohon untuk dilepaskan.
“Berjalan mengendap-endap seperti pencuri, kamu pikir Nenek akan membiarkanmu begitu saja?” omel Madeline kemudian melepaskan jewerannya pada telinga Olivia.
“Maaf. Olivia pikir Nenek sudah tidur. Jadi, Olivia tidak mau membangunkan Nenek. Siapa sangka kalau Nenek masih belum tidur dan duduk di sini dalam kegelapan,” ujar Olivia yang membuat Madeline menghela napas berat.
“Kalau Nenek tidak duduk di sini menunggumu, kamu akan terus seperti ini,” ucap Madeline.
“Olivia. Kamu ini sudah bukan anak kecil lagi. Usiamu sudah 26 tahun dan masih perawan. Apa kata orang kalau wanita perawan seusiamu selalu pulang jam begini? Apa kamu tidak khawatir orang-orang akan mencemooh kamu, karena masalah ini? Kamu tahu bagaimana sifat orang-orang yang suka mencari kesalahan orang lain lalu menyebarkannya seperti virus. Kalau itu sampai terjadi padamu, namamu bisa rusak, Olivia. Mau ditaruh di mana wajah Nenek?” omelnya.
“Ya, ampun, Nek. Kita tidak perlu mendengarkan ucapan orang lain. Mereka tidak tahu apa-apa. Pekerjaan Olivia bukan pekerjaan yang bisa ditinggalkan begitu saja dan bukan juga pekerjaan yang bisa dilakukan semua orang hanya karena ingin. Pekerjaan Olivia adalah pekerjaan yang mulia. Selama Olivia tidak menyimpang dari jalur kebenaran, kita tidak perlu mendengarkan mereka,” tutur Olivia.
“Kamu gampang bicara seperti itu. Tunggu sampai nama kamu benar-benar rusak, karena gunjingan mereka. Tidak akan ada pria yang akan mau menikah denganmu. Usiamu sudah tidak muda lagi, Olivia. Kamu sudah 26 tahun. 26. Mau sampai kapan kamu begini terus?”
“Nek. Usia 26 tahun belum setua itu. Olivia masih sempat untuk menikah. Terlebih, Olivia masih belum memikirkan masalah itu. Olivia ingin menemani Nenek di sini selama mungkin. Kalau Olivia menikah, siapa yang akan menemani Nenek?”
“Menemani? Kamu saja selalu pergi pagi dan pulang jam begini, apanya yang menemani? Lagi pula, ada Vina yang menjaga Nenek di sini. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu. Sekarang, tugas kamu hanya satu. Berhenti pulang malam dan cepat cari suami.”
“Tidak mau.”
“Apa?”
“Eh, tidak! Bukan tidak mau. Tapi, tidak bisa.”
“Kenapa tidak bisa?”
“Pertama, Nenek tahu sendiri kalau kita tidak bisa memprediksi datangnya pasien. Jika tiba-tiba ada pasien yang datang saat jam pulang kerja atau bahkan tengah malam, tidak mungkin Olivia mengabaikannya begitu saja. Nenek juga ‘kan pernah mengalaminya. Kedua, sudah Olivia bilang kalau Olivia masih belum ingin menikah dan ingin menemani Nenek di sini. Titik.”
“Kamu ini! Selalu bisa membalas ucapan Nenek.”
“Nenek sudah itu, kenapa Nenek masih sering mengoceh masalah ini?”
“Apa? Mengoceh? Jadi, selama ini kamu anggap Nenek hanya mengoceh?” Seketika Olivia menjadi gelagapan mendengar ucapan sang Nenek.
“Tidak! Bukan begitu maksud Olivia! Nenek salah paham!” bantah Olivia.
“Apanya yang salah paham? Jelas-jelas kamu sudah mengatai Nenek!” tukas Madeline.
“Siapa yang mengatai Nenek? Olivia tidak mengatai Nenek!” sangkal Olivia.
“Nenek tidak peduli dan tidak mau mendengar penjelasan apa pun lagi,” tandas Madeline. “Pokoknya, Nenek tidak mau bicara padamu sebelum kamu membawa cucu menantu untuk Nenek!” kecamnya kemudian beranjak dari sana menuju kamar.
Sepeninggal Madeline, Olivia langsung menghela napas berat lalu kembali duduk di sofa.
“Di mana aku harus mencari cucu menantu untuk Nenek larut malam begini?” rutuk Olivia kemudian kembali menghela napas.
“Nenek benar-benar sangat pandai mencari kelemahanku.”
-------
“Selamat pagi, Dok,” sapa beberapa perawat pada Olivia.
“Pagi,” balas Olivia.
Sepanjang perjalanan menuju ruangannya, Olivia terus membalas sapaan yang ditujukan padanya dari beberapa perawat dan dokter magang juga residen.
“Selamat pagi, Dok,” sapa Ella.
“Pagi,” balas Olivia kemudian masuk ke dalam ruangannya.
Sesampainya di dalam ruangan, Olivia meletakkan tas di atas meja, mengenakan jas putih, lalu duduk di kursi kebesarannya. Setelah itu, ia menggunakan hand sanitizer kemudian menyalakan komputernya.
“Masuk!” pinta Olivia ketika mendengar suara ketukan pintu. Dan beberapa saat setelahnya, Ella pun masuk ke dalam.
“Sudah ada pasien?” tanya Olivia.
“Sudah, Dok,” jawab Ella. “Pagi ini, ada 4 orang pasien baru yang membuat jadwal konsultasi dan 3 orang pasien lama yang datang sesuai jadwal konseling,” jelasnya.
“Siapa pasien pertama?” tanya Olivia.
“Pasien pertama adalah pasien baru,” jawab Ella sembari memberikan profil sang pasien yang dimaksud.
“Usia 26 tahun?” gumam Olivia.
“Kenapa, Dok? Apa ada masalah?” tanya Ella.
“Tidak ada. Hanya saja, aku jarang menemui pasien di usia seperti ini. Terlebih, dia adalah pria,” jawab Olivia.
“Mungkin, orang itu datang untuk konsultasi mengenai hubungannya,” tebak Ella. “Eh! Tapi, Dok. Pasiennya sangat tampan dan tinggi. Tubuhnya juga terlihat berotot. Hidungnya mancung dan alisnya tebal. Dia terlihat seperti aktor hollywood,” kagumnya.
“Sstt! Tidak boleh menggosipi pasien,” tegur Olivia membuat Ella mendengus.
“Padahal Anda yang memulainya,” ketus Ella yang membuat Olivia terkekeh kecil.
“Sudahlah. Persilakan pasiennya masuk,” pinta Olivia lalu memeriksa profil pasien pertamanya hari ini.
“Baik,” ucap Ella kemudian beranjak dari ruangan Olivia. Tak berapa lama kemudian, seorang pria bertubuh tegap masuk ke dalam lalu duduk di hadapan Olivia.
“Selamat pagi, Bapak Delwyn Carbert,” sapa Olivia seraya mendongakkan kepala dan langsung bertatapan dengan Delwyn.
-------
Love you guys~