“Apa yang kamu lakukan?” tanya Tala seraya melepas tangan Delwyn dari mulutnya ketika mereka telah tiba di tempat parkir.
“Apa yang kulakukan?” tanya Delwyn balik.
“Kenapa kamu menutup mulutku lalu langsung menyeretku pergi dari sana? Dan lagi, apa yang kamu lakukan di sana? Aku mencarimu ke mana-mana sejak tadi,” cecar Tala sembari bersedekap dadaa.
“Bukan apa-apa,” ucap Delwyn yang membuat Tala menyipitkan mata curiga dengan tingkah aneh Delwyn yang tak biasanya.
“Sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan,” tebak Tala tepat sasaran yang membuat mata Delwyn membulat.
“Ayo, katakan. Apa yang kamu sembunyikan? Aku janji akan merahasiakannya untukmu,” pintanya. Gadis itu lalu semakin mendekatkan wajahnya pada Delwyn untuk menekan pria itu agar mau mengatakannya.
“Tidak ada. Memang apa yang harus kusembunyikan?” elak Delwyn sembari menjauh dari Tala.
‘Tunggu. Kenapa aku sampai gugup begini? Tidak. Ini tidak benar.’ Delwyn membatin.
“Aku tidak percaya. Kamu pasti menyembunyikan sesuatu. Ayo, katakan. Apa itu? Apa yang kamu sembunyikan?” pinta Tala.
“Tidak mungkin kamu berada di tempat itu kalau tidak melakukan sesuatu. Lagi pula, kamu terlihat seperti menguping pembicaraan orang. Siapa dia? Dari papan namanya, sepertinya itu ruangan dokter. Apa dia kenalanmu? Musuh? Atau jangan-jangan dia kekasihmu dan sedang berselingkuh?” cecarnya yang semakin membuat Delwyn merasa kalau ini semua tidak benar.
“Dasar cerewet,” cibir Delwyn seraya mencubit hidung Tala. “Sudah, sudah. Ayo, masuk. Aku akan mengantarmu pulang,” pintanya sembari mendorong Tala masuk ke dalam mobil. Setelah memasukkan Tala ke dalam mobil, Delwyn pun ikut masuk ke dalam.
“Ayolah, El. Katakan padaku apa yang kamu lakukan di sana? Aku janji akan merahasiakannya,” pinta Tala.
“Tidak ada yang kusembunyikan,” sangkal Delwyn.
“Kalau begitu, kenapa kamu menguping pembicaraan orang?” tanya Tala.
“Aku tidak menguping. Aku hanya berdiri di sana. Lagi pula, tahu dari mana kamu kalau di sana ada orang?” elak Delwyn.
“Tidak mungkin. Kamu bukan orang yang akan berdiri di sana seperti orang bodoh. Kamu bahkan sampai menutup mulutku dan langsung menyeretku pergi dari sana,” bantah Tala.
“Aku menutup mulutmu, karena kamu terlalu ribut. Suaramu bisa mengganggu pasien lain,” elak Delwyn.
“Cih! Pembohong. Jelas-jelas di sana sepi dan tidak ada kamar inap pasien satu pun. Jadi, tidak ada pasien di sana,” cibir Tala.
“Sabuk pengaman,” ucap Delwyn. Tanpa membantah, Tala pun langusng memasang sabuk pengamannya.
“Ayolah, El. Katakan padaku. Aku sangat penasaran,” bujuk Tala yang dijawab gelengan oleh Delwyn.
Pria itu lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit dengan Tala yang tanpa menyerah terus merecokinya agar mau buka mulut di sepanjang perjalanan dan membuat telinganya terasa panas.
Di sisi lain, Olivia yang masih berada di ruangannya kini hanya termenung di kursinya. Setelah Ari pergi, ia merasa tidak enak pada pria itu.
Meskipun ini bukan pertama kalinya Olivia menolak perasaan pria, tapi tetap saja ada perasaan tak enak setelah menolak mereka. Terlebih, yang ia tolak kali ini adalah salah satu teman dekatnya.
Olivia menghela napas panjang kemudian beranjak dari kursi sembari menenteng tasnya. Setelah itu, ia pun keluar dari ruangannya lalu pulang. Namun, sebelum benar-benar keluar, kaki Olivia berhenti tepat sebelum mencapai pintu.
“Tapi, sepertinya tadi aku mendengar suara dari luar,” gumam Olivia dengan kening mengerut. “Apa jangan-jangan ada yang mendengar pembicaraanku dengan Ari?” tebaknya.
Sekali lagi, helaan napas keluar dari bibir Olivia. “Semoga saja hanya orang yang kebetulan lewat. Bisa-bisa satu rumah sakit kembali heboh kalau ada yang mendengar lalu menyebarkannya.”
-------
Olivia yang baru tiba di rumah sakit pagi ini seketika memasang wajah sedatar mungkin. Bagaimana tidak? Baru saja semalam ia mengkhawatirkan Ari, hari ini apa yang ia khawatirkan itu terjadi.
Hari ini, pria itu izin tidak masuk dengan alasan sakit. Jika hanya seperti itu, mungkin Olivia tidak akan begitu khawatir. Namun, rumor yang beredar mengenai alasan ketidakhadiran Ari hari ini adalah karena pria itu telah ditolak.
Meskipun namanya tidak disebutkan, tapi bisa saja ada orang bermulut jahil yang tanpa sengaja mengetahui hal tersebut lalu menyebarkannya. Bisa-bisa Olivia kembali menjadi trending topic di rumah sakit.
Lamunan Olivia buyar ketika mendengar suara ketukan pintu yang kemudian Ella masuk ke dalam.
“Apa sudah bisa dimulai, Dok?” tanya Ella.
“Iy-”
Perhatian keduanya lantas teralihkan ketika mendengar suara keributan dari luar. Tanpa pikir panjang, mereka berdua bergegas keluar dan melihat seorang wanita mengalami kejang-kejang di lantai.
Spontan, hal itu membuat beberapa pasien yang tengah menunggu di depan ruangan Olivia menjadi histeris. Walaupun beberapa petugas yang berjaga di sana telah mencoba menenangkan mereka, tapi tetap saja hal itu tidak mampu membuat mereka tenang.
“Apa yang terjadi?” tanya Olivia pada seorang perawat yang lebih dulu berada di sana. Sementara itu, Olivia langsung memeriksa mata dan tanda-tanda vital wanita tersebut.
“Tiba-tiba pasien terjatuh dan mengalami kejang,” lapor perawat tersebut.
“Pasien mengalami serangan jantung. Segera bawa ke UGD,” pinta Olivia kemudian langsung mengangkat pasien kejang-kejang tersebut bersama beberapa perawat lainnya lalu meletakkan sang pasien di atas brankar yang baru saja datang. Dan tanpa menunggu lama, beberapa perawat yang datang langsung membawa pasien tersebut ke UGD.
Sementara itu, Olivia tetap tinggal di sana. Karena jarak antara ruangannya dan ruang UGD tidak terlalu jauh, jadi pasien pasti bisa diatasi dengan cepat. Justru, yang harus Olivia khawatirkan sekarang adalah beberapa pasiennya yang masih histeris.
Ia sampai memijat keningnya yang terasa pening akibat teriakan mereka. Sampai mata Olivia bertemu dengan seorang gadis remaja yang duduk tenang di kursinya. Seorang gadis yang juga merupakan pasiennya.
Gadis itu bahkan sempat memeletkan lidah pada Olivia untuk mengejek wanita itu atas apa yang tengah terjadi. Membuat Olivia hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya. Namun, tak lama kemudian, gadis itu memberinya semangat untuk mengatasi keadaan tersebut.
Olivia lalu menghela napas berat sembari mengulas senyum tipis kemudian memulai aksinya untuk menangkan pasiennya yang masih histeris.
1 jam berlalu dan kini Olivia telah bisa bernapas lega. Pasalnya, semua pasien histeris tadi telah berhasil ia tenangkan. Akhirnya, jadwal konsultasi mereka untuk hari ini terpaksa ditunda dan dijadwalkan ulang besok.
Jika ia tetap memaksa untuk melakukan sesi konseling setelah kejadian tadi, takutnya hal itu tidak akan berdampak bagus untuk kondisi mereka. Saat ini, yang terbaik adalah lingkungan terdekat yang bisa menjamin kestabilan emosional mereka.
“Entah aku harus merasa bersyukur atau tidak. Hari sebagian pasien telah pulang dan membuatku punya banyak waktu luang. Tapi, pada akhirnya aku masih harus bekerja 2 kali lipat besok,” rutuk Olivia kemudian menghela napas berat.
Tok... Tok... Tok...
“Masuk!” pinta Olivia sembari memperbaiki posisi duduknya yang terkesan malas-malasan. Tak lama setelahnya, Ella masuk ke dalam sembari membawa beberapa rekam medis pasien.
“Tinggal berapa pasien yang sudah terjadwal hari ini?” tanya Olivia.
“Setelah jam istirahat tinggal 4, Dok,” lapor Ella. “Untuk sekarang hanya ada 1 orang. Adira Davina,” lanjutnya.
“Apa Anda masih butuh waktu untuk bersiap-siap?” tanya Ella.
“Tidak. Langsung saja persilakan Adira untuk masuk,” pinta Olivia.
“Baik,” ucap Ella kemudian langsung keluar dari ruangan Olivia yang digantikan oleh Adira.
“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Olivia seraya mengulas senyum.
“Begitulah,” jawab Adira seadanya sembari duduk di kursi.
“Pasti ada sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi,” tebak Olivia. Adira lalu menghela napas berat seraya menundukkan kepala sebagai balasannya.
“Kamu ingin menceritakannya?” tanya Olivia yang berhasil membuat Adira mendongak.
Berselang beberapa waktu, akhirnya sesi konseling terhadap Adira selesai dan berjalan dengan mulus. Adira adalah seorang gadis remaja, yang mana gadis-gadis seusianya sangat sensitif dan labil. Karena itu, Olivia sangat ekstra hati-hati saat menghadapi pasien remajanya.
Sepeninggal Adira, Olivia beranjak dari ruangannya yang langsung disambut oleh Ella.
“Anda mau pergi?” tanya Ella.
“Ke toilet sebentar,” jawab Olivia.
“Baiklah,” ucap Ella. “Lagi pula, tidak ada pasien sampai siang nanti. Jadi, Anda boleh menghabiskan waktu di luar. Saya akan menghubungi kalau terjadi sesuatu.”
“Terima kasih,” ujar Olivia seraya mengulas senyum kemudian beranjak dari sana.
Dengan langkah pelan, Olivia menyeret kakinya menuju toilet dengan mata yang sesekali terpejam, serta tangan yang memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa nyeri di kepala.
“Kenapa wanita harus mengalami ini setiap bulan?” keluh Olivia dengan kaki yang terus melangkah. Sampai akhirnya, Olivia meringis ketika tubuhnya tak sengaja bertubrukan dengan seorang pria.
“Kau tidak apa-apa?” tanya pria tersebut yang tak lain adalah Delwyn.
-------
Love you guys~