Bab 34 Pengantin Baru

1124 Kata

Pagi datang tanpa permisi, menyusup lewat celah-celah jendela rumah Ayu yang sejak subuh sudah ramai oleh suara panci, langkah kaki tergesa, dan bisik-bisik penasaran. Ini bukan pagi biasa. Ini pagi pertama mereka sebagai suami istri—di rumah yang penuh cinta, kepo, dan kekacauan yang nyaris legendaris. Ayu terbangun lebih dulu. Bukan karena alarm, melainkan karena suara pintu kamar yang diketuk pelan tapi beruntun. Ketukan khas rumah ibunya: tidak keras, tidak sopan, tapi pantang diabaikan. “Ayu… Pramasta… sudah pagi, ayo sarapan!” Ayu menghela napas, menoleh ke sisi ranjang. Pramasta masih setengah tertidur, rambutnya acak-acakan, satu lengan melingkar di pinggang Ayu seolah takut ia menguap jika dilepas. Wajahnya yang biasanya petakilan itu terkesan kalem dan lembut seperti anak keci

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN