Bab 6 Debat Panjang

1014 Kata
Pramasta pulang ke rumah dengan perasaan yang sulit diberi nama. Bukan senang sepenuhnya, bukan juga gelisah. Lebih seperti rasa puas yang tertahan, campuran antara capek, lega, dan geli, karena ternyata hidup bisa berubah sejauh itu hanya dalam beberapa jam. Ia baru menutup pintu ketika lampu ruang keluarga menyala terang. Papa duduk di sofa utama, punggung tegak, tangan bertumpu di lutut. Wajahnya tenang, nyaris datar, tapi Pramasta sudah hafal sorot mata itu. Tatapan orang yang belum selesai bicara. Di seberangnya ada Dimas. Duduk kaku, rahang mengeras, tangan mengepal di atas paha. Tatapannya menusuk lurus ke depan, seolah Pramasta bukan adiknya, melainkan sebuah ancaman. Pramasta berhenti melangkah. “Oh,” gumamnya pelan. “Kalian berdua menungguku.” “Duduklah,” kata Papa singkat. Nada itu bukan ajakan melainkan perintah. Pramasta menurut. Ia melepas jaket, meletakkannya sembarangan, lalu duduk dengan posisi santai, bersandar, kaki sedikit meregang. Sikap seseorang yang tidak berniat minta maaf, apalagi mundur. Padahal secara logika, ia baru saja melakukan hal paling tidak normal yang bisa dilakukan seorang adik yaitu mendekati keluarga mantan pacar kakaknya bebagai calon suami. Dimas berbicara lebih dulu. “Pa,” katanya dingin, tanpa menoleh ke Pramasta, “aku masih nggak setuju.” Papa menoleh perlahan. “Alasannya?” Dimas menarik napas dalam, seolah sedang menahan amarah yang sudah lama ingin keluar lalu menatap Pramasta dengan pandangan yang tidak lagi berusaha sopan. “Ayu itu nggak relevan masuk ke keluarga kita.” Alis Pramasta terangkat. “Latar belakangnya rendah,” lanjut Dimas, suaranya stabil tapi beracun. “Bapaknya punya dua istri. Lingkungan kayak gitu… rawan.” Papa tidak langsung menyela, hanya mendengarkan. Hal itu membuat Pramasta tahu: ini bukan pembicaraan ringan. Ini sidang. “Anak nggak pernah jatuh jauh dari pohonnya,” sambung Dimas, semakin yakin dengan argumennya. “Gimana kita yakin dia bakal setia?” Ruangan mengeras. Udara terasa lebih berat, seolah kata-kata itu bukan cuma diarahkan ke Ayu—tapi ke semua orang yang pernah hidup di luar standar Dimas. Pramasta tersenyum kecil, bukan senyuman ramah melainkan sebuah ejekan. “Oh,” katanya pelan, nyaris santai, “jadi maksud Kakak…” Ia mencondongkan badan sedikit ke depan. “Sifat b******n Kakak—yang ngebuang pacar demi bertunangan sama cewek lain—itu genetik dari Papa?” BRAK. Dimas berdiri. “APA MAKSUD KAMU?!” “Kan buah nggak pernah jatuh jauh dari pohonnya,” ulang Pramasta tanpa meninggikan suara. “Kamu yang bilang.” Papa menghela napas berat. “Pramasta.” “Belum selesai, Pa,” potong Pramasta, kini duduk tegak, menatap Dimas lurus-lurus tanpa berkedip. Dimas menunjuknya dengan tangan gemetar. “Jangan dibelokkan! Ini soal Ayu!” “Oke,” jawab Pramasta. “Kita bahas Ayu.” Ia berdiri. Bukan dengan emosi meledak-ledak melainkan dengan ketenangan yang justru lebih mengancam. “Pertama,” katanya tegas, “keluarga mereka akur.” Dimas mendengus. “Itu kelihatannya aja.” “Enggak,” balas Pramasta dingin. “Poligami itu terjadi karena mantan suami ibu tirinya Ayu adalah istri dari adik almarhum bapaknya yang meninggal duluan.” Papa mendongak. Alisnya berkerut. “Dan yang mengusulkan pernikahan itu,” lanjut Pramasta, “justru ibu kandung Ayu sendiri.” Ia menatap Dimas tajam. “Jadi jangan banyak bacot kalau nggak tahu ceritanya.” Sunyi. Untuk sesaat, Dimas kehilangan pijakan, tapi egonya terlalu besar untuk berhenti. “Terus soal utang?” sergahnya cepat, mencari celah baru. “Ayu pernah ngutang demi bayarin adiknya sekolah. Orang yang suka ngutang itu buruk. Nanti kebawa terus!” Pramasta tertawa pendek. Bukan tawa lucu lebih seperti suara seseorang yang sudah terlalu sering mendengar orang pintar bicara tanpa empati. “Dia bukannya suka minjem uang,” katanya pelan, tapi setiap katanya jelas. “Dia kepepet.” Ia melangkah satu langkah mendekat. “Sebagai pacar,” lanjutnya, “kamu harusnya berguna. Supaya dia nggak perlu minjem uang ke siapa pun.” Dimas tercekat. Untuk pertama kalinya, tudingan itu tepat sasaran. “Sebagai suami,” suara Pramasta makin rendah, “setelah dia menikah denganku, aku nggak bakal biarin dia kekurangan uang sama sekali.” Sunyi kembali turun. Papa menunduk. Tangannya saling menggenggam, jari-jarinya bergerak pelan, tanda ia sedang berpikir keras. “Lagian,” lanjut Pramasta, “dia suka utang? Nggak masalah. Selama dia bayar.” Ia menatap Dimas tanpa berkedip. “Kita nggak pernah tahu betapa malunya seseorang saat harus minjem uang. Betapa terpaksa dan rendahnya perasaan itu.” Pramasta mengepalkan tangan. “Jadi jangan menghina orang hanya karena dia terpaksa pinjem uang demi adiknya,” katanya tajam, “kalau kamu nggak mau dihina balik. Lebih baik kamu jangan berusaha menjelekkan calon istriku, juga wanita yang sudah bersamamu selama tiga tahun.” Ia berhenti sejenak lalu dua kata keluar, dingin dan final. “Kamu menjijikkan.” Kata itu jatuh seperti tamparan telak. Dimas berdiri sepenuhnya. “Pa, lihat!” “Baru sehari tapi dia udah durhaka!” Papa mendongak. “Ayu bawa pengaruh buruk ke Pramasta!” Pramasta tergelak. Tawa pendek, kering, tanpa humor. “Durhaka apaan?” katanya. “Pengaruh buruk dari mana?” Ia menatap Dimas dengan senyum paling menyebalkan. “Justru Ayu itu membawa keberuntungan.” Papa terdiam. “Dia bakal ngasih Papa dan Mama cucu,” lanjut Pramasta enteng, “lebih cepat daripada kamu.” HENING TOTAL. Dimas membeku. Papa menutup mata, mengusap wajahnya lama, seolah sedang menahan migrain yang datang bersamaan dengan kenyataan. “Cukup,” katanya akhirnya. Ia menatap Pramasta. “Kamu bicara keterlaluan.” Pramasta mengangguk. “Mungkin.” Ia menoleh ke Dimas. “Tapi aku nggak bakal diem,” katanya tegas, “kalau perempuan yang mau aku nikahi dihina.” Papa berdiri perlahan. “Kalian berdua,” katanya lelah, “sama-sama keras kepala.” Ia menatap Pramasta lama. “Kalau kamu memilih Ayu, kamu harus siap berdiri di depannya. Bukan cuma melawan kakakmu.” Pramasta mengangguk tanpa ragu. “Dari awal aku tidak melawan, hanya membela diri, Pa.” Papa menghela napas panjang. Dimas tidak bicara lagi. Malam itu, Pramasta masuk ke kamarnya dengan satu kesadaran penuh: Perang ini belum selesai. Namun untuk pertama kalinya, ia tahu posisinya jelas. Bukan sebagai adik atau pembangkang melainkan sebagai pria yang sudah memilih siapa yang ingin dilindungi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN