Bab 7 Rumah Bertahan

982 Kata
Ayu terbangun dengan perasaan aneh. Dia tidak panik, sesak atau merasa dihantam mimpi buruk. Meski semua terasa tiba-tiba, entah kenapa semua terasa begitu lancar. Namun, justru itu yang membuatnya curiga. Kamar di kosnya masih sama—sempit, cat dinding mulai mengelupas di sudut dekat jendela, kipas angin berdecit pelan seperti orang tua yang kelelahan. Ponselnya tergeletak di samping bantal, layar mati. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan tak terjawab. Dunia tidak runtuh semalam. Padahal seharusnya iya. Meski memiliki rumah, tapi itu adalah rumah orang tuanya. Pramasta memang mengantarnya ke sana, tetapi Ayu tidak tinggal di rumah orang tuanya. Dia ngekos sendiri. Lebih dekat dengan tempat kerja. Pramasta tahu, tetapi sengaja datang dan mengantarnya ke rumahnya seolah dia ingin meminta izin dan dukungan sebelum rencana pernikahan itu benar-benar menjadi kenyataan, bukan sekadar omong kosong. Ayu duduk perlahan. Rambutnya berantakan, kepalanya masih agak berat. Tidak ada tangis yang tertahan atau rasa ingin menghilang. Yang ada justru… hening yang aneh. Ia menatap langit-langit kamarnya cukup lama, mencoba menelusuri ulang kejadian beberapa hari terakhir. Putus cinta, dipatahkan dengan kejam dan dipermalukan dengan cara paling sopan. Setelah itu, tanpa jeda, dia langsung diseret ke masa depan oleh seseorang yang masuk hidupnya tanpa permisi. Pramasta. Nama itu sekarang muncul di kepalanya bukan sebagai sumber stres. Akan tetapi sebagai sesuatu yang… stabil. Hal itu terasa menakutkan. Ayu bangkit, berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah. Pantulan di cermin menampilkan dirinya yang terlihat lebih pucat dari biasanya, tapi matanya tidak kosong. Ada sesuatu di sana, perasaan waspada dan siaga, seperti orang yang baru selamat dari tenggelam dan takut air akan datang lagi. Ponselnya bergetar saat ia kembali ke kamar. Pramasta. Pagi. Kepala masih pusing? Ayu menatap layar lama sebelum membalas. Sedikit, tapi masih hidup dan harus bekerja. Balasan datang cepat. Bagus. Jangan mati dulu. Aku belum resmi jadi suami dan ayah dari anak-anakmu. Ayu mendengus kecil. Ia meletakkan ponsel, tapi detik berikutnya layar kembali menyala. Sarapan dulu sebelum pergi. Jangan bandel. Ayu membalas tanpa pikir panjang. Siap, Pak. Baru setelah pesan terkirim, ia terdiam. Sejak kapan ia bisa menjawab seluwes itu? Ayu menutup ponsel dan menghela napas panjang. Inilah masalahnya. Pramasta tidak datang membawa janji manis atau drama berlebihan. Ia datang dengan hal-hal kecil yang konsisten. Pesan pagi. Nasi Padang. Berdiri di depan keluarganya. Berdiri di depan keluarganya sendiri. Bagi Ayu—perempuan yang hidupnya terbiasa dihadapi sendirian—itu terlalu cepat dan memberikan kenyamanan. Ia keluar kamar, membeli sarapan di warung depan kos. Ibu penjualnya tersenyum seperti biasa. “Sendirian terus, Yu?” tanyanya ramah. Ayu hampir menjawab iya. Hampir. “Enggak lagi, Buk,” katanya akhirnya, lalu tersenyum kecil tanpa alasan jelas. Ia membawa sarapan kembali ke kamar dan makan perlahan. Di sela suapan, pikirannya melayang ke malam tadi. Wajah Papa Pramasta. Nada suara Dimas yang merendahkan dan yang paling membekas adalah cara Pramasta tidak mundur satu langkah pun. Ayu bukan orang bodoh. Ia tahu pria bisa bersikap heroik saat emosi masih panas. Yang ia takuti adalah setelah semuanya dingin. Setelah semua kembali normal. Apakah Pramasta masih akan berdiri di tempat yang sama? Ponselnya bergetar lagi. Aku jemput sore ini pulang kerja. Kita ngobrol. Ayu menatap pesan itu lama. Ngobrol soal apa? Jawaban datang dengan cepat seperti berkedip. Soal kita. Ayu mengetik, menghapus, mengetik lagi. Aku nggak janji. Balasannya datang cepat, seolah Pramasta memang menunggu itu. Aku yang janji. Itu yang membuat dadanya terasa sesak. Pramasta tidak menuntut dan Ayu tidak tahu harus melawan bagaimana. Sore itu, Pramasta datang tepat waktu. Tidak berlebihan dan tidak membawa apa-apa kecuali dirinya sendiri dan mobil yang sama seperti kemarin. Bukan berharap, tapi Ayu merasa lebih bebas dan tidak berbebani. Mereka duduk di dalam mobil beberapa menit tanpa bicara. “Ayu,” kata Pramasta akhirnya, nadanya lebih pelan dari biasanya, “kamu kelihatan sedang mikir keras.” Ayu menatap keluar jendela. “Aku takut.” Pramasta mengangguk. Tidak menyela. “Aku terbiasa berjuang sendirian,” lanjut Ayu. “Kalau jatuh, aku tahu harus berdiri sendiri. Sekarang… ada kamu. Hal itu bikin aku bingung.” Pramasta menoleh, serius. “Karena takut bergantung?” Ayu mengangguk. “Juga takut kecewa.” Hening sejenak. “Ayu,” kata Pramasta, suaranya rendah, “aku nggak datang buat jadi penyelamat.” Ayu menoleh. “Aku datang buat berdiri di samping kamu,” lanjutnya. “Kalau kamu jatuh, aku nggak bakal bilang ‘sini aku angkat’. Aku bakal bilang ‘aku di sini, ayo bangun bareng’.” Daada Ayu menghangat, tapi justru itu yang membuat matanya basah. “Kenapa?” tanyanya lirih. “Kenapa aku?” Pramasta tersenyum kecil. Bukan senyum menang atau percaya diri berlebihan. “Karena dari semua orang,” katanya, “kamu satu-satunya yang tetap berdiri walau duniamu berkali-kali nggak adil.” Ayu menunduk. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ada orang yang melihatnya seperti itu. Bukan sebagai perempuan yang harus dikasihani atau sebagai korban melainkan sebagai seseorang yang kuat dan pantas dipilih. “Aku nggak tahu bisa jadi istri yang baik,” katanya jujur. Pramasta mengangkat bahu. “Aku juga nggak tahu bisa jadi suami yang sempurna.” Ia menoleh. “Tapi kita bisa jadi orang yang saling mengandalkan.” Mobil tetap diam. Ayu menarik napas panjang, lalu berkata pelan, “Aku nggak minta kamu menjanjikan apa pun.” Pramasta tersenyum. “Syukurlah. Janji itu gampang diucapin.” Ia menatap Ayu lurus-lurus. “Tapi aku minta satu hal.” “Apa?” “Kalau kamu ngerasa takut, jangan pergi sendirian,” katanya. “Ajak aku.” Air mata Ayu jatuh tanpa suara. Bukan karena sedih melainkan karena untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus kuat sendirian. Sore itu ketika Pramasta mengantarnya kembali ke kos setelah mengajaknya makan malam, Ayu berdiri di depan pintu lebih lama dari biasanya. Ia belum berani melangkah sepenuhnya, tapi ia juga tahu satu hal dengan pasti bahwa Pramasta bukan badai yang datang menghancurkan hidupnya. Ia adalah rumah yang datang terlalu cepat. Ayu hanya perlu belajar untuk berani masuk ke dalamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN