Selvi tidak berniat datang ke rumah tunangannya dengan emosi berlebihan. Setidaknya, begitu yang ia yakini saat berdiri di depan cermin apartemennya pagi itu saat memastikan riasannya rapi, rambutnya jatuh sempurna, dan cincin tunangan di jarinya masih ada di posisi yang tepat. Cincin itu seperti jangkar. Pengingat bahwa posisinya sah, resmi dan aman. Masalahnya, sejak malam sebelumnya, jangkar itu terasa… ringan.
Dimas pulang larut, nyaris tidak bicara, dan ketika Selvi bertanya dengan nada yang ia jaga tetap lembut, jawaban yang ia dapat hanyalah,
“Capek. Jangan bahas apa-apa dulu.”
Biasanya Selvi akan mengalah. Akan tetapi tidak kali ini. Karena untuk pertama kalinya, ada rasa takut yang tidak bisa ia beri nama. Semua berasal dari satu orang yaitu Ayu. Perempuan yang menurutnya sudah dia kalahkan, tetapi tiba-tiba muncul dengan gebrakan yang membuatnya merasa terancam.
Selvi memang sering datang ke rumah orang tua Dimas tanpa janji. Ia tahu Mama Dimas tidak keberatan. Ia juga tahu, sebagai calon menantu resmi, ia punya akses moral untuk datang kapan pun.
Yang tidak ia tahu adalah—bahwa rumah itu hari ini sedang tidak ramah untuk siapa pun yang datang membawa ego.
Mama Dimas sedang di dapur ketika Selvi masuk. Wajahnya terlihat letih, seperti seseorang yang baru saja menelan terlalu banyak masalah tanpa sempat minum air.
“Oh, Selvi,” katanya sambil tersenyum tipis. “Tumben datang pagi.”
Selvi tersenyum balik. “Aku kangen Mama.”
Itu tidak sepenuhnya bohong.
Mereka duduk di ruang keluarga. Teh disuguhkan, tapi tak satu pun benar-benar diminum.
“Aku dengar,” Selvi membuka percakapan dengan hati-hati, “kemarin ramai ya, Ma?”
Mama Dimas tidak langsung menjawab. Ia mengaduk tehnya pelan.
“Kamu dengar dari Dimas?”
Selvi mengangguk. “Sedikit.”
Itu bohong. Dimas tidak bilang apa-apa. Namun Selvi cukup cerdas untuk menyusun potongan-potongan yang hilang.
Mama Dimas menghela napas. “Pramasta keras kepala.”
Selvi menegakkan punggung. “Jadi… benar, Ma?”
Mama Dimas menatapnya bingung. “Benar apanya?”
“Pramasta serius dengan Ayu?”
Hening. Sunyi yang terlalu panjang untuk disebut kebetulan.
Mama Dimas akhirnya berkata setelah beberapa menit, “Pramasta tidak pernah main-main kalau sudah punya keinginan. Sejak kecil, dia selalu begitu dan tidak bisa dihentikan. Pusing, deh.”
Selvi tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Lucu ya, Ma,” katanya pelan. “Dimas pacaran sama Ayu tiga tahun, tapi Pramasta cuma… satu malam udah langsung mau dinikahi.”
Kata-kata itu jatuh tanpa emosi, tapi dampaknya terasa tajam.
Mama Dimas menegakkan tubuh. “Hati-hati bicara. Dimas tidak menikahinya kan karena memilih kamu.”
“Aku cuma jujur,” Selvi mengangkat bahu. “Aku hanya kaget. Kok bisa Ayu tiba-tiba naik status begitu cepat?”
Mama Dimas menatapnya lama. “Status manusia tidak selalu ditentukan oleh siapa yang datang lebih dulu. Kamu yang paling paham itu, kan?”
Kalimat itu seperti tamparan halus.
Selvi tersenyum lagi. “Aku cuma takut, Ma.”
“Takut apa?”
“Takut Ayu merasa… lebih tinggi dari aku sekarang.”
Mama Dimas menghela napas. “Selvi.”
“Aku tahu posisiku calon istri Dimas,” lanjut Selvi cepat, “tapi kalau Ayu jadi istri Pramasta, otomatis dia adik iparku dan....”
Ia berhenti. Menelan kata-kata yang hampir keluar.
Mama Dimas melanjutkan, datar, “Kamu takut dia tidak lagi berada di bawahmu karena Pramasta mungkin lebih sukses dari Dimas, begitu?”
Selvi tercekat.
“Ma, bukan gitu, aku...”
“Selvi,” potong Mama Dimas lembut tapi tegas, “pernikahan bukan lomba status.”
Selvi berdiri. Senyumnya runtuh.
“Maaf,” katanya cepat. “Aku cuma… butuh waktu.”
Ia pamit tidak lama kemudian.
Di dalam mobil, Selvi memukul setir sekali. Tidak keras. Tapi cukup untuk melampiaskan rasa tidak adil yang tiba-tiba tumbuh.
Ayu seharusnya tetap jadi masa lalu. Bukan masa depan orang lain.
Sementara itu, Ayu tidak tahu apa-apa tentang kunjungan Selvi.
Ia sedang duduk di ruang istirahat tempat kerjanya, menatap layar ponsel yang sejak pagi terlalu sering menyala.
Pramasta: Makan siang?
Ayu: Aku lagi shift.
Pramasta: Berarti aku yang jemput.
Ayu menghela napas.
Ayu: Jangan ke sini.
Balasan datang cepat.
Pramasta: Kenapa?
Ayu: Aku belum siap dilihat orang.
Beberapa detik berlalu. Ayu hampir mengira pesan itu akan berakhir di sana.
Namun kemudian—
Pramasta: Oke. Aku tunggu di luar. Kamu tinggal jalan.
Dadanya menghangat. Sekaligus panik.
Ayu: Kamu keras kepala.
Pramasta: Iya, tapi konsisten.
Saat jam makan siang tiba, Ayu keluar dengan langkah ragu.
Pramasta berdiri di dekat mobilnya. Kemeja digulung sampai siku, rambut sedikit berantakan tertiup angin. Wajahnya terlihat santai, tapi matanya langsung fokus saat melihat Ayu.
“Kamu kelihatan capek,” katanya.
Ayu mengangguk. “Kamu ngapain nunggu?”
“Ngawal,” jawabnya ringan.
Ayu tersenyum kecil. “Aku nggak butuh bodyguard.”
“Aku bukan bodyguard,” Pramasta membuka pintu mobil. “Aku calon suami yang bandel.”
Ayu tertawa pelan. Tawa yang akhirnya terasa alami.
Mereka makan sederhana. Tidak ada pembicaraan besar. Tidak ada janji. Hanya cerita remeh dan diam yang nyaman.
Namun saat Ayu kembali ke tempat kerja, Pramasta berkata pelan,
“Ayu.”
“Hm?”
“Kalau ada orang yang bikin kamu nggak nyaman, bilang sama aku.”
Ayu menatapnya. “Kenapa?”
“Karena mulai sekarang,” kata Pramasta mantap, “hidupmu bukan cuma urusanmu.”
Ayu terdiam. Kalimat itu tidak mengekang. Tidak menguasai. Justru… melindungi.
Di kejauhan, tanpa mereka sadari, konflik pelan-pelan bergerak mendekat.
Bukan dari Ayu atau Pramasta melainkan dari orang-orang yang belum siap menerima bahwa perempuan yang dulu mereka remehkan. Namun kini tidak lagi berdiri sendirian. Mereka saling memiliki dan mengandalkan satu sama lain.