Bab 9 Mantan Nyasar

1025 Kata
Dimas tidak pernah berniat datang ke tempat kerja Ayu. Kakinya hanya bergerak dengan sendirinya. Refleks. Kebiasaan lama yang tertanam terlalu dalam untuk langsung mati. Selama tiga tahun, ada pola yang nyaris sakral dalam hidup meski memutuskan tidak lagi bersama di masa depan. Hari Kamis adalah salah satunya. Kamis dan Sabtu adalah hari lembur Ayu. Dulu, setiap Kamis dan Sabtu, Dimas akan datang tanpa banyak bicara. Kadang membawa kopi, kadang hanya berdiri di luar, menunggu sampai Ayu selesai. Tidak selalu masuk. Tidak selalu menjemput, tapi selalu ada. Keberadaan tanpa janji. Kebiasaan tanpa status. Hari ini tanpa sadar ia berdiri di tempat yang sama. Dia lupa bahwa hubungan telah berakhir. Puskesmas, tempat Ayu bekerja tidak banyak berubah. Lampu-lampu neon masih terlalu putih, lorongnya masih berbau antiseptik dan kopi instan. Namun satu hal terasa berbeda: Ayu tidak lagi menjadi pusat gravitasi hidupnya. Dimas berdiri di dekat pintu keluar, menunggu. Matanya refleks mencari satu sosok yang selama ini terlalu familiar dari cara jalannya, cara rambutnya diikat atau cara wajahnya terlihat lelah tapi tetap bertahan. Namun yang muncul bukan pemandangan yang ia harapkan. Ayu keluar bersama Pramasta. Mereka tidak bergandengan tangan. Tidak ada adegan berlebihan. Akan tetapi jarak di antara mereka terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Pramasta sedikit menunduk saat berbicara, Ayu mengangguk sambil tersenyum kecil, senyum yang dulu hanya ia lihat ketika Ayu merasa aman. Dimas tercekat. Perasaan itu datang tiba-tiba. Tajam dan tidak elegan. Sebuah perasaan familiar bernama cemburu. Bukan karena ia masih mencintai Ayu seperti dulu melainkan karena untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang pahit yaitu Ayu baik-baik saja tanpanya. Dimas bukannya tidak setuju bila Ayu memulai lembaran baru dengan orang lain. Namun, dia hanya tidak mengerti kenapa pria itu harus adiknya. Dia tidak bisa menerimanya. Pramasta membuka pintu mobil. Ayu masuk. Tidak menoleh ke kanan atau kiri. Tidak mencari siapa pun. Mobil itu melaju pergi. Dimas berdiri sendirian, di tempat yang seharusnya sudah lama ia tinggalkan. Malam itu, Dimas tidak pulang dengan kepala tegak. Ada bagian dalam dirinya yang retak, sesuatu yang selama ini ia kubur di balik keputusan “rasional”. Ia mengira Ayu akan butuh waktu. Akan menangis lebih lama karena kehilangan. Ternyata tidak. Yang hilang justru dirinya. Keesokan paginya, Dimas datang ke depan kos Ayu. Ia sengaja datang lebih pagi. Terlalu pagi untuk sekadar kebetulan. Ia tahu jadwal Ayu. Dulu ia hafal. Sekarang ia hanya menebak—dan berharap Pramasta belum datang. Saat Ayu membuka pintu kos, tas kerja sudah di pundak, rambut masih setengah basah, wajahnya terkejut. “Dimas?” Nada suaranya datar. Tidak dingin. Tidak hangat. Hanya… waspada. “Aku mau bicara,” kata Dimas cepat, seolah takut kesempatan itu menguap. Ayu menoleh ke sekeliling, refleks. Jalan kecil di depan kos masih sepi. Tidak ada mobil Pramasta. “Kita nggak punya banyak waktu,” katanya. “Aku nggak lama,” jawab Dimas. Hening menggantung di antara mereka. Sunyi yang dulu biasa, sekarang terasa canggung. Ayu menghela napas. “Oke. Mari bicara.” Dimas menatapnya cukup lama. Seperti sedang menyusun ulang wajah yang dulu ia kenal luar kepala. “Kamu kelihatan… baik,” katanya akhirnya. Ayu mengangguk pelan. “Aku sangat baik.” Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk menusuk. “Ayu,” Dimas menelan ludah, “aku nggak nyangka semuanya berubah secepat ini.” Ayu tersenyum tipis. “Aku juga.” “Kamu—” Dimas berhenti, lalu berkata jujur, “kamu mudah banget kelihatannya.” Ayu mengernyit. “Mudah apa?” “Mudah melupakan.” Ayu terdiam beberapa detik. Lalu tertawa kecil—bukan mengejek, bukan sinis. “Dimas,” katanya pelan, “aku nggak melupakan kamu.” Ia menatapnya lurus. “Aku berhenti menunggu.” Kata-kata itu jatuh lebih keras daripada tuduhan apa pun. “Kamu datang sekarang,” lanjut Ayu, “di saat semuanya sudah selesai. Bukan karena aku belum selesai, tapi karena kamu baru merasa kehilangan.” Dimas membuka mulut, lalu menutupnya lagi. “Aku kira aku punya waktu,” katanya lirih. Ayu mengangguk. “Itu masalahmu dari dulu.” Ia melipat tangan di depan d**a. “Kamu selalu yakin aku akan tetap ada. Bahwa aku bisa ditunda.” Dimas terdiam. “Sekarang kamu datang,” Ayu melanjutkan, suaranya tenang tapi tegas, “bukan untuk memperbaiki apa pu, tapi untuk memastikan aku masih bisa kamu jangkau.” Dimas menggeleng cepat. “Bukan itu maksudku.” “Lalu apa?” tanya Ayu. Dimas terdiam lama lalu berkata pelan, hampir kalah, “Aku cemburu.” Ayu tidak terkejut. “Aku lihat kamu sama Pramasta,” lanjut Dimas. “Dan aku… ngerasa kayak orang asing.” Ayu menghela napas. “Karena memang begitu.” Kalimat itu tidak kejam. Hanya jujur. “Kamu punya Selvi,” kata Ayu. “Kamu sudah punya tunangan. Kamu memilih dia.” “Aku tahu,” jawab Dimas cepat. “Tapi melihat kamu bahagia sama orang lain—” “—itu konsekuensi,” potong Ayu. Ia menatap Dimas dengan tatapan yang sudah tidak berharap apa-apa. “Aku nggak diambil dari kamu, Dimas. Aku dilepas.” Sunyi. Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Mobil mendekat. Ayu menoleh. Dadanya bergetar kecil. Pramasta. Dimas juga mendengarnya. Bahunya mengeras. “Aku nggak datang buat minta kamu balik,” kata Dimas cepat, seolah waktu menipis. “Aku cuma… perlu kamu tahu kalau kamu berarti.” Ayu menatapnya lama. Lalu mengangguk. “Aku tahu,” katanya lembut. “Kamu cuma bilangnya terlambat.” Mobil Pramasta berhenti tidak jauh dari mereka. Pramasta turun. Tidak langsung mendekat. Tapi tatapannya fokus. Waspada. Tidak agresif. Ayu melangkah mundur setengah langkah, memberi jarak yang jelas. “Terima kasih sudah jujur,” katanya pada Dimas. “Tapi hidupku sudah bergerak.” Dimas menatap Pramasta lalu kembali ke Ayu. “Jaga diri,” katanya. “Kamu juga,” jawab Ayu. Dimas melangkah pergi. Saat Pramasta mendekat, Ayu sudah berdiri tegak. Tidak goyah atau ragu. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Pramasta pelan. Ayu mengangguk. “Sekarang… iya.” Pramasta tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya membuka pintu mobil. Di dalam mobil itu, Ayu duduk dengan satu kesadaran utuh kalau masa lalunya akhirnya benar-benar tinggal di belakang. Bukan karena ia kalah melainkan karena ia memilih untuk tidak kembali. Lagipula alasan mantan nyasar bukan alasan terbaik untuk gamon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN