Ayu dan Pramasta tidak langsung bicara setelah mobil melaju menjauh dari kosnya. Mesin mobil berdengung pelan, menyatu dengan suara radio yang sengaja dikecilkan. Kota bergerak seperti biasa, tapi di kepala Ayu, semuanya masih berisik. Ia menyandarkan kepala ke jok, menatap lampu jalan yang berkelebat lewat kaca. Dadanya masih terasa sesak, bukan karena Dimas melainkan karena satu bab hidup benar-benar ditutup pagi ini. Pramasta memegang setir dengan satu tangan, santai tapi fokus. Ia tidak menoleh atau bnyertanya tentang apa yang barusan dilihatnya. Pria itu seolah memberi ruang dengan cara yang tidak mengintimidasi. Ayu menarik napas panjang. “Pram,” katanya akhirnya. “Hm?” “Tadi… Dimas datang.” Pramasta mengangguk pelan seolah tidak kaget. “Aku lihat, kok.” “Dia bilang pengin bi

