Dimas baru saja keluar dari ruang rapat ketika sekretarisnya menyebut satu nama yang membuat langkahnya berhenti. “Pak, ada yang mengaku adik anda datang.” Dimas menoleh tajam. “Siapa?” “Namanya Pramasta.” Rahang Dimas mengeras. "Di mana dia?" "Di depan ruangan anda." "Oke, terima kasih." Sekretaris mengangguk kecil lalu Dimas melangkah pergi. Beberapa detik kemudian, dia melihat Pramasta berdiri di depan ruangannya. Kemeja santai, lengan digulung asal, rambut agak gondrong diikat setengah. Penampilannya jelas tidak cocok dengan gedung formal ini dan memang itu tujuannya. “Wah,” ujar Pramasta sambil melirik sekitar, “kantor kakak makin gede ya. Kenapa mukamu kok makin tegang? Kaget aku ke sini?” “Ngapain kamu ke sini?” Dimas langsung menutup pintu ruangannya. Pramasta duduk ta

