Telepon itu masuk pukul empat sore, saat Pramasta baru selesai meeting dan sedang merebahkan diri di kursi kerja sambil membuka kancing lengan kemejanya satu per satu. Nomor tak dikenal. Ia mengangkatnya dengan ekspresi santai. “Halo?” “Mas Pramasta?” Suara di seberang terdengar ragu tapi tegas. “Iya. Dengan siapa ini?” “Saya… bapaknya Ayu. Saya menelepon dari kartu nama yang sebelumnya kamu kasih ke saya kemarin.” Pramasta langsung duduk tegak. Bukan karena kaget, lebih karena refleks seseorang yang tahu sedang berhadapan dengan NPC penting level tinggi. “Oh, Pak!” Suaranya langsung cerah. “Sehat, Pak?” “Ayu lagi jaga malam,” lanjut ayah Ayu, tanpa basa-basi. “Kalau Mas sempat, datang ke rumah malam ini. Kami mau bicara.” Pramasta terdiam dua detik. Bukan mikir. Lebih ke mena

