Ayu tahu soal sidang rahasia itu bukan dari siapa pun yang diplomatis. Ia tahu dari ibu kandungnya. Telepon masuk pukul sepuluh pagi, saat Ayu sedang menulis laporan pasien di ruang jaga puskesmas. Bau antiseptik masih menempel di hidung, dan kepalanya sedikit berdenyut karena kurang tidur setelah jaga malam. “Yu,” suara ibunya terdengar terlalu santai untuk ukuran kabar yang baru saja menjatuhkan bom, “kamu pacaran sama Pramasta itu serius ya?” Pulpen Ayu berhenti di udara. Detik itu juga, ada sesuatu di dadanya yang jatuh. Bukan pecah—lebih seperti longsor pelan yang tak bisa ditahan. “Kenapa, Bu?” tanyanya, berusaha terdengar biasa. “Dia datang ke rumah tadi malam.” Sunyi. Bukan sunyi ruangan, melainkan sunyi di dalam kepala Ayu. “Datang… ke rumah?” ulangnya pelan. “Iya. Kami a

