Lamaran Pramasta di mall sore itu memang membuat siapa pun yang melihat ikut terharu. Tidak ada musik berlebihan, tidak ada layar LED raksasa, hanya pria gondrong dengan senyum tengil yang berlutut sambil memegang cincin, lalu—tanpa ragu—menyerahkan kunci rumahnya. Bukan kunci apartemen sewaan. Bukan kunci mobil melainkan kunci rumah. Rumah di mana mereka akan hidup setelah menikah. Tidak banyak yang bisa memikirkan tempat tinggal khusus bagi calon istri mereka, tetapi Pramasta jelas tidak ingin Ayu tinggal di rumah orang tua mereka, ingin hidup mandiri berdua tanpa ada ikut campur dari siapapun. “Aku nggak tahu kamu akan hamil atau nggak dari malam itu,” katanya santai, seolah membicarakan cuaca. “Tapi aku mau kamu tetap menjadi istriku.” Kalimat itu seharusnya romantis. Memang… itu ro

