Pramasta pulang ke rumah orang tuanya menjelang malam. Bukan rumah yang hangat dengan aroma masakan rumahan dan suara televisi cukup nyaring seperti di rumah Ayu, tapi rumah besar dengan pagar tinggi, lampu kuning yang terlalu terang, dan keheningan yang terasa seperti ujian. Ia memarkir mobil, turun, lalu menarik napas panjang sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah. Jujur, bermalam di rumah ini adalah bagian yang paling ia hindari. Bukan karena takut melainkan karena tahu—di rumah ini, cinta selalu berada di urutan paling bawah. Dulu, dia bertahan tinggal di sana karena ingin melihat Ayu yang datang berkunjung setiap bulan sekali meski bersama dengan Dimas, kakaknya. Namun, dia suka melihat perempuan yang dicintainya dari jauh. Meskipun ibunya kurang bisa menerima Ayu, setidaknya bagi Pr

