Ayu tidak langsung sadar kapan tepatnya ia mulai goyah. Bukan saat Pramasta berdiri membela dirinya di depan Dimas, dengan nada santai tapi bahu tegang seperti siap adu apa pun. Bukan juga ketika keluarganya yang biasanya ribut, cerewet, dan penuh pertanyaan—menerima Pramasta seolah laki-laki itu memang sudah lama berada di dalam garis takdir mereka, tapi malam itu. Malam yang sunyi, terlalu sunyi untuk seseorang yang pikirannya sedang gaduh. Ayu duduk di ranjang kosnya, bersandar ke dinding yang catnya mulai mengelupas. Lampu kamar sengaja tidak dinyalakan penuh. Ia hanya mengandalkan cahaya layar ponsel yang menyorot wajahnya dari bawah, membuat bayangan matanya tampak lebih dalam. Ia membuka aplikasi pesan. Menatap satu nama. Pramasta. Jarinya sempat mengetik, lalu menghapus. Menget

