Bab 84 Tekad

1072 Kata

Malam itu rumah orang tua Ayu berubah jadi jauh lebih ramai dari biasanya. Pramasta yang biasanya terlihat rapi dan berwibawa di kantor, kini duduk lesehan di karpet ruang tengah, diganggu tiga adik iparnya tanpa ampun. “Bang, main FIFA!” seru Andi sambil mengangkat stik. “Tim bebas, tapi jangan Madrid. Itu curang,” tambah Soni. Sonya duduk bersila sambil tertawa. “Kalau kalah jangan ngambek, Bang.” Pramasta tersenyum santai. “Aku nggak pernah ngambek.” Sepuluh menit kemudian— “Wasitnya nggak adil,” gumamnya datar ketika Andi mencetak gol ketiga. Satu ruangan langsung pecah oleh tawa. Ayu yang duduk di samping ibu kandungnya sampai menutup wajahnya sendiri. “Itu CEO besar loh,” bisiknya pelan pada ibunya. Ibu kandungnya terkekeh. “CEO juga manusia.” Di meja makan, dua ibu itu s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN