Sore itu Ayu pulang lebih cepat dari biasanya. Langit masih terang ketika ia memutuskan membelokkan motornya ke arah rumah orang tuanya. Sudah lama ia tidak datang sendirian. Biasanya selalu bersama Pramasta—atau minimal memberi kabar dulu. Kali ini tidak. Ia hanya ingin mampir. Tidak tahu kalau di lehernya, di balik liontin mungil yang sering dipakai, ada chip kecil yang bekerja diam-diam. Terhubung langsung ke ponsel suaminya. Tentu saja, Pramasta tahu ke mana arah motornya melaju meski Ayu tidak bilang padanya. Rumah orang tua Ayu tidak berubah. Pintu kayu cokelat, teras luas dengan pot bunga berjajar, dan suara televisi yang terlalu keras dari ruang tengah. “Ayu?” Suara berat papanya terdengar ketika pintu dibuka. Ayu tersenyum lebar. “Papa.” Belum sempat masuk, dua perempuan sud

