Malam sudah lewat tengah ketika kamar itu kembali sunyi. Ayu berbaring menyamping, tubuhnya setengah tertutup selimut, kepalanya bersandar nyaman di daada Pramasta. Napas mereka masih belum sepenuhnya stabil, tapi detak jantung sudah mulai tenang. Lampu tidur redup memantulkan bayangan hangat di dinding. Pramasta membelai lembut rambut Ayu, jemarinya menyisir pelan helaian yang terurai di bahunya. “Capek?” tanyanya pelan. Ayu menggeleng kecil tanpa mengangkat kepala. “Enggak. Cuma… ngantuk dikit.” Tangannya menggambar lingkaran kecil di d**a Pramasta. Hening yang nyaman. Tidak canggung. Tidak berat. Beberapa detik berlalu sebelum Pramasta kembali bersuara. “Gimana kerjaan hari ini?” Ayu mendesah pelan. “Yang mana? Puskesmas atau klinik?” “Dua-duanya.” Nada Pramasta santai, tapi ad

