Lampu depan puskesmas sudah mulai redup ketika Ayu keluar dengan langkah lelah. Rambutnya masih terikat seadanya, beberapa helai lepas menempel di pipi karena keringat. Seragam bidannya sedikit kusut setelah seharian mondar-mandir dari ruang tindakan ke ruang pemeriksaan. Ia menghela napas panjang. Hari yang melelahkan. Begitu pintu pagar ia dorong, sebuah mobil merah elegan sudah terparkir di seberang jalan. Ayu langsung mengenalinya. Pramasta. Pria itu bersandar santai di pintu mobil, mengenakan setelan kaos, celana pendek dengan rambut yang diikat asal. Juga, jangan lupa sandal jepit kesayangannya. Tangannya di saku, wajahnya diterangi lampu jalan. Senyumnya muncul begitu melihat Ayu. Brewoknya bahkan tidak dicukur, membuat Ayu hampir tertawa. Ayu mendekat sambil menyipitkan mata. “

