Setelah dokter meninggalkan apartemen, Selvi duduk di sofa dengan tubuh yang mulai hangat. Dimas menatapnya beberapa detik, lalu berdiri. “Kamu harus makan sesuatu,” katanya, menenteng kantong plastik berisi bubur hangat. Selvi mengangkat alis. “Bubur?” “Ya, biar perutmu tidak kosong,” jawab Dimas sambil membuka tutupnya. Aroma kaldu hangat menyebar, membuat Selvi tersenyum tipis meski masih lelah. Mereka duduk bersebelahan, Selvi menerima sendok yang Dimas berikan. Tidak banyak kata diucapkan, hanya sesekali Selvi mengangguk, atau Dimas menatapnya untuk menjaga Selvi tetap nyaman. Tubuhnya yang rapuh masih membutuhkan perhatian. “Ini, makanlah pelan-pelan,” kata Dimas lembut. “Terima kasih…” suaranya serak, lemah. Dimas tersenyum tipis, menatapnya dengan penuh perhatian. Ia merasa le

