Apartemen itu biasanya terasa tenang, rapi dan bersih— sama seperti pemiliknya. Namun hari ini, suasananya berbeda. Ruangan itu menyimpan sunyi yang menyesakkan. Udara seperti memberikan rasa pengap, karena sirkulasi yang tidak lancar. Tirai jendela kamar itu masih tertutup rapat meski siang hari sudah tinggi. Lampu ruang tamu menyala redup, menciptakan bayangan samar di dinding. Beberapa gelas air kosong tergeletak di meja, obat penurun panas terbuka tanpa disentuh. Di sofa, Selvi duduk memeluk lututnya. Masih mengenakan piyama. Rambutnya berantakan. Wajahnya pucat. Mata bengkak karena kurang tidur. Sudah dua hari ia tidak keluar dari apartemennya. Dia ingin berada di rumah, tetapi orang tuanya pasti akan bertanya kalau dia tidak bekerja. Jadi, dia memilih untuk kembali ke apartemennya

