Ruangan itu tidak pernah mengenal cahaya matahari. Lampu kecil berwarna kekuningan menggantung rendah di langit-langit, memantulkan bayangan panjang di dinding yang penuh dengan foto. Wajah Selvi ada di mana-mana—tersenyum dengan jas dokter putihnya, tertawa dengan rambut yang tertiup angin, menatap kamera dengan sorot mata lembut yang dulu membuat Aiden merasa hidup. Aiden duduk sendirian di kursi kayu di tengah ruangan rahasia itu. Ponselnya menyala di tangannya. Layar menampilkan foto Selvi terbaru—hasil tangkapan dari mata-matanya yang mengikuti Selvi saat tiba di rumah orang tua Pramasta dan Dimas. Ia memperbesar gambar itu, menyentuh layar dengan ujung jari yang gemetar. “Masih sama…” bisiknya. “Masih cantik. Masih lembut. Masih milikku.” Aiden tersenyum. Dia meletakkan ponselnya

