Pagi menjelang siang saat mobil Pramasta akhirnya kembali memasuki halaman rumah. Langit sudah lebih terang, sisa-sisa embun pagi perlahan menghilang. Suasana terlihat tenang seperti biasa—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja meninggalkan situasi penuh ketegangan. Mesin mobil dimatikan. Pramasta tidak langsung turun. Tangannya masih berada di setir, tatapannya lurus ke depan. Ada sesuatu yang belum selesai di pikirannya. Bukan soal perjalanan tadi—semuanya berjalan lancar. Meski ini cukup mengkhawatirkan karena berjalan lancar, tetapi dia berusaha untuk berpositif thingking karena segala prasangka sebaiknya diabaikan. Ia akhirnya menghembuskan napas pelan, lalu membuka pintu dan turun. Begitu langkahnya memasuki teras, pintu rumah langsung terbuka. Ayu sudah berdiri di sana seol

