Ibu Pramasta tidak langsung bicara saat semua sudah duduk. Ia menunggu sampai suaminya, Papa Pramasta meletakkan koran dan menunggu Dimas berhenti mengetuk-ngetuk jari di sandaran kursi—kebiasaan kecil yang selalu muncul saat ia merasa terdesak. “Aku sudah berpikir,” kata Ibu Pramasta akhirnya. Nada suaranya tidak lagi ragu. Tidak juga mengatur. Lebih seperti seseorang yang sudah menerima satu kebenaran, meski tidak sepenuhnya nyaman dengannya. “Soal pernikahan Pramasta dengan Ayu.” Papa Pramasta menoleh. Wajahnya tenang, tapi sulit ditebak. “Kita tidak bisa terus menahan sesuatu yang jelas-jelas sudah diputuskan anak kita sendiri,” lanjut Ibu Pramasta. “Aku sudah bicara dengannya. Dia selalu keras kepala dan mengubah pikirannya sama halnya dengan kehilangan seorang putra. Karena itu

