Setelah satu malam menginap di rumah yang hangat, riuh, dan jujur seperti keluarga Ayu, Pramasta memutuskan pulang ke rumah orang tuanya. Keputusan itu diambil tanpa banyak pertimbangan. Bukan karena rindu. Bukan karena ingin berdamai. Ia hanya perlu mengambil beberapa barang yang masih tertinggal di kamar lamanya—laptop cadangan, jas kerja, dan dokumen penting yang belum sempat dipindahkan. Itu saja. Tidak ada niat menginap atau niat duduk lama. Apalagi membuka ulang percakapan yang masih terasa panas di tenggorokan. Mobilnya berhenti di halaman rumah yang dulu selalu terasa “aman”. Sekarang terasa… asing. Pramasta tumbuh di lingkungan seperti ini, tetapi tetap saja, semua terasa asing karena kedua orang tuanya, bahkan pembantu rumah mereka, menganggap dirinya hanyalah anak kedua atau

