Pintu rumah itu tertutup dengan bunyi yang terlalu keras untuk disebut tidak sengaja. Pramasta sangat marah. Tidak membanting semua makanan yang disajikan saja, sudah termasuk keberhasilan dalam mengendalikan diri. Pramasta tidak menoleh ke belakang. Tangannya menggenggam tangan Ayu erat, seolah kalau dilepas satu detik saja, semua keberanian yang baru saja ia bangun di meja makan akan runtuh. Udara malam menyergap wajah mereka. Dingin, lembap, dan terasa jauh lebih jujur dibandingkan ruang makan penuh senyum palsu barusan. Pramasta membuka pintu mobil dengan kasar. Ayu masuk tanpa bicara. Begitu pintu tertutup, mesin langsung menyala. Mobil melesat. Bukan melaju—melainkan melarikan diri. Ayu mencengkeram sabuk pengaman saat jarum kecepatan naik cepat. Lampu-lampu jalan berubah jadi g

