Mobil berhenti di depan sebuah rumah satu lantai di ujung kompleks yang masih setengah sepi. Lampu teras menyala redup, bukan terang yang menyambut, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa rumah itu hidup. Bukan kosong atau bangunan mati. Ayu menatapnya lama. Jujur, rumah itu belum pernah dilihatnya. “Ini… rumah siapa?” tanyanya pelan. Pramasta mematikan mesin, melepas sabuk pengaman, lalu menoleh dengan ekspresi sok santai yang terlalu dibuat-buat. “Rumah orang kaya baru,” katanya. “Masih cicilan, tapi gaya sok mapan.” Ayu melihat Pramasta sembari menyipitkan mata seolah bilang akan ngambek kalau tidak jujur. “Pram.” “Oke,” ia menghela napas. “Rumah kita.” Kata kita itu jatuh pelan, tapi berat. Ayu menelan ludah. “Maksud kamu…?” Pramasta turun, membuka pintu Ayu, lalu berdiri di samp

