. Ilyas menggeleng melihat sikap istrinya. Dena tak akan bisa dihentikan jika sudah emosi. Ini yang ia takutkan. Semua menjadi berantakan! Dan ini gara-gara putrinya, Rika. Ilyas memang mendengar istrinya meminta Rika ke rumah besannya. Pasti dia yang membawa kabar itu kesini. "Mama pergi pa?" Rika sudah berdiri di belakang tubuhnya. Gadis itu menatap kepergian Mamanya yang semakin emosi. Ia tak mau ikut menyusul ke sana. Nanti yang ada kena warisan omelan. "Kamu lagi! Datang-datang bawa masalah!" Geram sudah Ilyas pada anak bungsunya ini. Mata Rika melotot. "Lho kok aku yang disalahkan sih Pa?" Ia jelas tak terima. "Kenapa kamu kasih tahu Mamamu perihal Khansa tadi? Seharusnya kamu simpan sendiri! Itu rahasia yang seharusnya hanya papa dan Rayhan yang tahu!" Mata Ilyas berkila