Tetap disini

1233 Kata
Pembangunan posko segera dipercepat dan bantuan sebentar lagi akan segera datang dalam jumlah yang cukup banyak. Para aparat pun telah ada yang datang membantu mereka menuju beberapa tempat yang sangat parah didesa ini. Sebagaian dari perempuan gabungan relawan dan tim medis saat ini sedang menyiapkan dapur umur. Mereka akan memasak makanan dengan jumlah yang banyak, Bumi dan rekan-rekannya bekerja sama dengan para aparat mencari para korban. Perempuan yang selalu dekat dengan Bumi itu tiba-tiba mendekati Vanesa dan ia menatap Vanesa dengan tatapan angkuh. "Sejak kapan kamu kenal dengan Dokter Bumi?" Tanyanya dan tatapannya itu terlihat sangat tidak bersahabat, tentu saja itu membuat Vanesa merasa kesal. Ia bahkan tidak mengenal perempuan ini dan tiba-tiba perempuan ini datang lalu ingin menabraknya seolah ia adalah istrinya Bumi. "Sekarang itu tidak penting saya sejak kapan saya mengenal Mas Bumi," ucap Vanesa kesal. "Saya ingin tahu dan kamu harus menjawab pertanyaan saya!" Ucapnya dan ia sangat penasaran siapa Vanesa hingga Bumi mengajaknya berbicara berdua saja. Vanesa sedang memasukkan bumbu mie instan kedalam baskom besar dan ia sangat tidak suka diganggu seperti ini. Tentu saja ia sangat kesal dengan tingkah kekanak-kanakan perempuan ini bahan perempuan yang ada dibelakang perempuan ini. Siapa lagi kalau bukan Fitri yang memang telah membuat lututnya terluka dan sampai saat ini ia merasakan sakit dilututnya. "Sekarang saya sedang bekerja sebaiknya kalau ada waktu senggang baru kita bicarakan hal pribadi!" Ucap Vanesa berusaha untuk menghindari konflik yang tidak penting. Perempuan itu tiba-tiba dengan cepat menarik rambut Vanesa membuat Vanesa terkejut dan hampir saja baskom mie itu tumpah. Napas Vanesa memburu, ia sudah berusaha menghidar untuk bertengkar dengan perempuan ini, tapi perempuan ini seolah sengaja ingin mencari masalah dengannya. Ada apa dengan para perempuan yang menjadi relawan disini, apa tujuan mereka hampir sama yaitu berusaha mendekati laki-laki yang mereka sukai sama seperti dirinya dan ia sangat kesal saat ini kepada keduanya yang seolah menganggap dirinya, ingin merebut kekasih mereka. Fitri menghela napasnya dan ia tidak tahu apa yang menjadi masalah Vanesa dengan perempuan yang bernama Ririn ini. Vanesa berdiri dan ia mendorong kasar Ririn, hingga Ririn terjatuh. Ririn segera bediri dan ia ingin kembali menjambak rambut Vanesa. "Hey....kamu kenapa? Kalian bisa nggak bersikap lebih profesional dan nggak kayak gini, kita disini lagi bantuin orang-orang bukan bertengkar karena masalah yang seharunya bukan untuk diributkan. Tatapan Vanesa tertuju kepada Fitri dan Ririn. "Saya tegaskan ya saya tidak ada hubungan apapun sama Edo, saya pun baru kenal sama Edo, Fit," ucap Vanesa dingin. "Kalau sama Dokter Bumi, iya saya suka sama dia sudah lama sekali memangnya kenapa? Dia pacarnya kamu? Bukan kan?" Ucap Vanesa kesal. Icha yang baru saja mengantarkan makanan kedepan terkejut ketika melihat suasana dapur umum mereka, yang terlihat sangat dingin dan penampilan Vanesa terlihat kacau. Ia mendekati Vanesa yang terlihat sangat emosi. "Ada apa Nes?" Tanya Icha dan ia merapikan rambut Vanesa. "Dia tiba-tiba menarik rambut gue dengan sangat kasar dan pertanyaan kapan gue mengenal Bumi harusnya tidak perlu dia tanya disaat kondisi kita seperti ini, singkirkan masalah pribadi dan utamakan bekerjasama dalam penanganan bencana ini!" Ucap Vanesa kesal. "Niat kamu jadi relawan mau ngejar-ngejar Dokter Bumi rupanya, kamu tidak akan berhasil!" Ucap Ririn. "Hey...siapa nama kamu?" Tanya Vanesa dan ia benar-benar sangat kesal. "Ririn..." ucapnya dan ia merapikan penampilannya yang tadi terjatuh akibat dorongan kasar Vanesa. "Rin...lo harus tahu ya, yang paling utama disini itu kita nolongin orang, itu niat yang pertama. Kalian melihat penampilan gue yang seperti ini, yang kayak Barbie dan terlihat manja. Gue memang anak bokap gue yang manja kalau diri rumah tapi kalau disini gue bukan lagi anak bokap gue tapi gue Relawan, tugas gue bantuin orang dan bukan nyusahin," ucap Vanesa dingin. Fitri menghela napasnya dan ia merasa bersalah karena tadi telah sengaja mendorong Vanesa karena rasa cemburunya. Apalagi tadi Vanesa telah mengatakan jika ia menyukai Bumi bukan Edo dan harusnya sekarang itu mereka kompak mengurusi masalah bencana bukan meributkan hal pribadi seperti ini. "Kalau hanya ingin mengajak gue berkelahi lebih baik kalian keluar saja, yang ada didapur ini adalah orang yang benar-benar ingin membantu memasak!" Ucap Vanesa. Ririn segera melangkahkan kakinya keluar karena kesal dan malu saat ini. Apalagi semua mata yang ada didapur tadi menatapnya dengan tatapan dingin. Vanesa segera melanjutkan acara memasaknya dengan dibantu Icha. Dulu memasak adalah hal yang sangat tidak ingin ia lakukan tapi selama beberapa tahun ini ia telah banyak belajar beberapa hal termasuk memasak. Fitri mendekati Vanesa, ia duduk disamping Vanesa, ia membantu Vanesa memasak dan ia memilih untuk tidak berbicara. Setelah selesai memasak Vanesa membagikan makanan kepada para korban bencana, sekarang yang menjadi persoalan bagi mereka adalah pakaian dan air bersih. Beberapa rumah ini tidak akan sanggup menampung banyak orang dan ia juga belum menjelajahi tempat ini untuk mencari tahu bagaimana kondisi rumah lainnya. Vanesa merasa lega karena semuanya sedang makan meskipun saat ini kondisi mental mereka sedang tidak baik-baik saja. Apalagi yang membuat Vanesa merasa sedih adalah kondisi beberapa balita yang terlihat mengkhawatirkan, anak-anak harus memakan makanan yang bergizi dan tidak bisa memakan mie instan yang mereka bawa. Untung saja hari ini Vanesa masih bisa memberikan mereka abon yang ia bawa khusus buatan Kakak iparnya dan ia bisa memberikan abon itu sebagai lauk untuk balita. "Untung sekali kamu membawakan banyak abon, aku tidak menyangka jika kamu mempersiapkan persiapan sematang ini Nes," ucap Icha. "Kakak iparku memilki kebisaan memasukkan makanan kedalam tasku ketika aku bepergian dan ternyata benar dia membawa makanan untuk aku makan," ucap Vanesa membuat Icha tersenyum. Terlihat Bumi membawa beberapa orang yang berhasil diselamatkan dan mereka dibawa ke tenda yang telah dibangun untuk pasien. Mereka juga melihat beberapa kantung jenazah dan ia membuat semua histeris menangis pilu karena khawatir jika dikantung jenazah itu ada orang-orang yang mereka sayangi. "Kita kekurangan orang untuk masuk ke kawasan yang paling terdampak," ucap Hamid. Hamid salah satu relawan dari Bagaskara grup dan sejak dalam perjalanan ia memang tidak banyak bicara, namun kali ini ia mengeluarkan pendapatnya. "Kita harus segera masuk kesana Bumi, saya yakin disana masih banyak korban yang selamanya dan kalau kita menundanya korban akan semakin bertambah!" ucap Hamid. Seorang perempuan muda yang merupakan penduduk Desa ini mendengar pembicaraan mereka. Ia memang terlihat sangat rapuh saat ini tapi ia harus mencari ibu dan adiknya. "Saya akan memandu kalian ke daerah itu karena disana ada rumahku, aku..." ucapnya terhenti karena lidahnya merasa keluh dan ia menatap mereka dengan tatapan memohon. "Saya mohon kita harus kesana, kemungkinan besar ibu dan adikku masih hidup!" Pintanya dengan tatapan memohon. Ia bisa sampai ke tempat ini karena ia hanyut dan berhasil mendarat hingga ia mencari batuan ke tempat ini. Vanesa mendengar pembicaraan mereka dan ia mendekati mereka. "Gue ikut!" Ucap Vanesa membuat mereka semua menatap Vanesa dengan tatapan menyelidik, "Dia perempuan dan nggak mungkin ikut kesana sendirian, lagian kita nggak punya pemandu laki-laki saat ini, akan tidak nyaman jika hanya dia sendiri yang menuju kesana!" Ucap Vanesa. "Aku nggak tahu apa mas iba da yang tersisa disana tapi aku nggak boleh berhenti berharap, aku ingin berusha menemukan keluargaku!" Pinta perempuan itu. "Nama saya Lusi, saya mohon izinkan saya ikut!" Ucap Lusi. "Bagaimana kalau kita pergi sekarang juga, biarkan Vanesa dan Lusi ikut kita!" Ucap Hamid. "Vanesa tetap disini!" Ucap Bumi. "Biar saya saja Dok yang ikut!" Ucap Ririn dan ia tersenyum penuh kemenangan karena jika ia ikut ia akan memiliki banyak waktu untuk bisa bersama dengan Bumi. "Aku ikut Mas! Aku mau ikut!" Ucap Vanesa keras kepala. "Kamu tetap disini!" Ucap Bumi dan ia menatap Vanesa dengan tajam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN