“Apa kau sudah gila! Hah!” Jantung Hajoon rasanya ingin copot saat melihat Jamie melepaskan pegangan tangannya pada pembatas jembatan. Beruntung dengan cepat Hajoon menyambar tangannya dan menariknya ke belakang. Jamie berhasil diselamatkan. Mereka berdua kini terkapar di tanah dengan napas yang tak beraturan. Hajoon langsung bangun dari posisinya dan memarahi Jamie. Jamie menekuk lututnya dengan tangan yang gemetar. Perasaannya campur aduk antara marah dan kesal pada Hajoon. Hajoon menyadari raut wajah Jamie, mendadak dia merasa bersalah karena sudah memarahinya. “Kau tidak tahu apa yang kurasakan,” Jamie menggigit bibirnya. Perasaan itu kembali menyeruak. Hajoon mengusap wajahnya frustasi. “Kau tidak ada hak untuk menghentikanku,” kata Jamie dengan pandangan penuh kebencian. Perempuan

