Reya menatap langit-langit kamar. Dadanya naik-turun pelan, belum sepenuhnya pulih dari apa yang baru saja mereka lewati. Dan entah mengapa, setiap kali seperti itu, selalu ada rasa hangat yang tinggal lebih lama dari sekadar sentuhan fisik. Ia menoleh pada Barat yang sudah bangun dan sedsng memainkan ponselnya. "Udah bangun?" tanya Barat sambil tersenyum. Barat selalu seperti ini setiap kali mereka selesai berhubungan. Manis dan hangat, perhatian yang biasanya cuek diberikan dengan senyuman. Reya mengangguk. "Saya mandi dulu ya pak, nanti saya buat sarapan." Barat mengangguk lalu kembali dengan aktivitas di tangannya. Sementara reya bangkit dan segera membersihkannya dirinya. Selesai mandi reya berjalan ke dapur, sementara Barat mandi. Mereka berpapasan di depan pintu kamar mandi se

