Selama perjalanan pulang, aku banyak berpikir. Terutama ucapan Wira dan Andin. Apa benar aku sudah mulai jatuh cinta pada pria besi itu? Argh, kalau iya, habislah aku! Rugi dua belas jatuh cinta pada pria macam dia. Udah cuek, dingin, mana gak bisa diajak anu-anuan lagi. Banyak banget ruginya pokoknya. Tapi ini juga bukan salahku. Jelas ini salah si Manusia Besi yang dengan jahatnya malah tebar pesona tiap hari di depanku. Kesalku makin menjadi saat Andin bilang aku yang terlalu mudah jatuh cinta. Ck, harusnya dia merasakan bagaimana jadi aku. Sialnya, Reza memang termasuk pria dengan seabrek kelebihan yang diidamkan semua wanita. Tampan? Iya. Seksi? Iya. Kaya? Jangan tanya! Noh, gimana aku gak bakalan terpesona coba? Sesampainya di rumah, aku menyimpan kembali rantang susun yang sudah

