Reza masih menungguku. Ini lebih menegangkan dari sesi wawancara saat aku melamar pekerjaan. Aku mulai melangkah mendekat pada pria yang masih merentangkan kedua tangannya. Tatapannya tak lepas dari mataku. Sialnya, pria di depanku ini sangat tinggi. Sehingga aku harus sedikit berjinjit untuk bisa mencapai bibirnya. Aku menutup mata. Kecupan singkat aku labuhkan di bibir pria itu. Setelah ini, aku harus segera pergi lagi ke perusahaan tempatku bekerja sekarang. Sayang, dugaanku meleset. Rupanya masalah belum selesai. Saat aku menempelkan bibirku ke bibir Reza. Tiba-tiba Reza meraih pinggangku. Yang lebih mengejutkan lagi adalah Reza meraup bibirku dengan rakus. Mendorong tubuhku hingga ke dinding. Aku berontak. Tapi Reza tentu lebih kuat dariku. Bahkan pria itu menggigit cuping teli

