Reza sepertinya tidak mau berhenti. Masih terus menikmati ritual sakral ini. Mungkin wajar, saat kami tidak ada masalah, Reza bisa minta jatah tiap hari. Paling lambat dua hari sekali. Lah ini? Berbulan-bulan lamanya. Seperti ditumpuk dan sekarang tumpah semua kerinduannya. "Sesil? Apa kalian tidur?" Suara Mama terdengar lagi. Aku khawatir bagaimana kalau mereka membuka kunci pintu kamar? Kan mereka yang mengurung kami di sini? Reza mengerang nikmat saat mencapai klimaks. Lalu tubuhnya ambruk di atas tubuhku. "Terimakasih, Sayang," bisiknya setelah mengecup singkat dahiku. "Mas, buka dulu pintunya." Aku mulai panik. Gak kebayang, anjir. Dibuka pintu pas lagi gak pakai baju begini. Malunya sampai ke ubun-ubun. "Lha, kan mereka yang mengunci?" ucap Reza. Pria itu menggulingkan tubuhnya

