"Argh!" Reza menggeram pelan saat aku menggigit bibirnya agak keras. Kalau tidak begini, mana bisa ia berhenti? Bahkan tangannya yang semula hanya memeluk kini mulai sedikit berkeliaran. "Tuan Duda, Anda kenapa?" Nafasku tersengal-sengal setelah serangan tak terduga. Bahkan aku yakin, bibir bawahku seperti terasa bengkak. Pria yang kini masih menguasai tubuhku benar-benar menyerang tanpa ampun. Andai tidak digigit, pria ini pasti belum selesai dengan serangannya. "Aku tidak suka jika apa yang menjadi milikku diusik orang lain," bisiknya dengan suara berat. Tanganku berusaha mendorong dadanya, "Bisa menjauh sedikit?" "Kenapa?" Reza menatap kehilangan. Seperti anak TK yang diambil es krimnya. "Anda berat," jawabku asal. Buntu mencari jawaban. Padahal aku tahu, Reza tidak membebankan

