Kerja?

1300 Kata

Aku masih kesal. Hingga kami masuk ke kamar tidur, marahku belum juga reda. Bangkenya lagi, sumber kekesalanku malah sudah tidur dengan tenang seperti biasa di ranjangnya. Sedangkan aku masih bergerak gelisah kesana kemari. Ah ya, sejak kejadian menyebalkan dengan si Suparjo, aku langsung tidak memperpanjang kontrak. Gak mempan ternyata. Suparjo tampangnya aja yang ganteng, otak lemot malah lebih mendominasi. Beruntung bayaran untuk Suparjo dan Suti hanya sepertiga dari bulanan yang aku terima. Argh, kesal-kesal! Mana tadi aku malah blak-blakan bilang kalau Reza bagaikan mesin pencetak uang bagiku. Eh tapi kok dia gak marah ya? Atau merasa tersinggung gitu? Padahal jelas sekali aku hanya butuh uang bulanannya. Ah, masa bodoh, aku tidak peduli. Kantuk datanglah! *** "Kamu mau kemana

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN