bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

book_age18+
266
IKUTI
2.7K
BACA
family
arranged marriage
drama
like
intro-logo
Uraian

“Menikahlah dengan Abimana, putra sulung Pak Jusuf.”

.

Azarin tahu, pria yang dimaksud sang papa pernah kecelakaan serius dan sekarang kondisinya cacat. Sebagai anak haram, ia selalu berusaha menurut, sadar diri, sadar posisi. Wanita itu seperti tidak punya mimpi, tanpa berani hidup dengan ekspektasi tinggi. Siapa sangka, pria itu malah mengatakan hal tidak terduga.

.

“Saya dengan tegas menolak perjodohan ini karena saya mencintai wanita lain.”

.

“Oke. Bagus kalau begitu.”

.

Suatu saat, Abimana mendadak berubah pikiran. Ia menerima perjodohan tersebut karena sebuah alasan. Namun, telanjur banyak hal terjadi. Termasuk adiknya–Pandu–juga menyukai Azarin dan bersedia menggantikannya.

.

“Lo terpaksa kan, nerima Azarin? Daripada lo permainkan, berikan dia ke gue. Gue akan memberi banyak kebahagiaan untuknya. "

.

Sementara itu, Abimana juga terjebak dalam dilema. Ia ingin membenci dan melepaskan Azarin untuk sang adik. Namun, makin ia mencoba menjauh, makin besar keinginannya melindungi wanita itu.

.

Belum lagi godaan dari Kayla, wanita yang dicintai Abimana.

.

“Azarin, kamu itu orang ketiga yang hadir dalam hubungan saya dan Abimana. Jadi, mundurlah secara terhormat. Daripada memaksa menikah, tapi nggak dianggap.”

.

Akankah hubungan mereka bertahan di tengah banyak goda? Atau hubungan itu sejak awal memang ditakdirkan untuk menjadi penjara bagi keduanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Kenalkan, Saya ....
Tangan Azarin baru saja hendak mengetuk pintu ketika suara tawa kecil terdengar dari dalam. “Dasar Bapak genit ih!” Suara manja perempuan terdengar. “Tapi kamu suka, kan? Milikmu atas bawah sangat besar, membuat saya ketagihan.” Azarin berhenti. Alisnya sedikit berkerut. Ia menahan napas, lalu perlahan membuka pintu tanpa suara. Pemandangan di dalam membuat langkahnya membeku. Pria yang seharusnya menjadi klien penting perusahaan sekaligus digadang sebagai orang yang akan dijodohkan dengannya, duduk santai di sofa, satu tangannya melingkar di pinggang sekretaris yang duduk di pangkuan. Perempuan itu tertawa pelan, wajahnya terlalu dekat. Terlalu intim untuk disebut profesional. Kancing kemeja si wanita juga terbuka beberapa di bagian atas. Belum lagi rok yang tersingkap sampai atas, memperlihatkan yang seharusnya ditutupi. Azarin menutup pintu kembali dengan pelan. Ia bergidik ngeri. Dadanya naik turun, bukan karena terkejut semata, tetapi karena firasatnya terbukti. Ia memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang. “Fokus kerja,” gumamnya pelan, seperti mengingatkan diri sendiri. “Persetan masalah perjodohan.” Beberapa detik kemudian, ia kembali mengetuk. Kali ini lebih tegas. “Masuk!” suara berat dari dalam terdengar, sudah berubah nada lebih formal. Azarin membuka pintu. Sekretaris itu sudah berdiri di sisi lain ruangan, pura-pura sibuk dengan tablet. Si pria, Ardi tersenyum lebar seolah-olah tidak terjadi apa-apa. “Ah, Nona Azarin,” sapanya ramah. “Silakan masuk. Pak Budi sudah mengabari kalau Nona mau datang.” Azarin melangkah masuk, wajahnya kembali netral. Ia duduk tanpa basa-basi, membuka berkas yang dibawanya. Sementara Ardi memberi kode pada sekretaris untuk keluar ruangan. Sang sekretaris pun pergi. “Kita langsung saja, Pak. Waktu saya terbatas.” “Anda terlalu formal, Nona Azarin. Tapi baiklah. Lanjutkan.” Awalnya, pembicaraan berjalan normal. Revisi desain, timeline, pengiriman material, semua dibahas cepat dan jelas.Sampai akhirnya, Ardi mulai keluar jalur. “Ngomong-ngomong,” ujar Ardi santai, “Anda selalu setegas ini, ya?” Azarin tidak langsung menjawab. “Maksud Bapak?” “Saya suka. Perempuan tegas itu menarik. Dan apa Anda tahu, Nona? Papa Anda pernah membicarakan perjodohan dengan saya.” Azarin menutup map perlahan. “Kita sedang membahas proyek, Pak. Jangan membahas hal lain.” “Tentu. Tapi tidak ada salahnya sedikit santai. Jangan terlalu kaku. Dunia bisnis juga butuh … fleksibilitas.” Azarin menatapnya lurus. “Batas juga penting.” Ardi tersenyum, lalu berdiri. Ia berjalan mendekat, duduk di samping Azarin. Bahkan terlalu dekat. “Batas bisa dinegosiasikan. Menurutmu, bagaimana pendapatmu tentang kita? Jujur, saya tertarik sama kamu. Kamu cantik, smart, tegas.” Sebelum Azarin sempat bergeser, pria itu menyentuh lengannya. Refleks, Azarin langsung menjauh. “Jangan sentuh saya!” Ardi sedikit terkejut, lalu tertawa lagi. Bahkan berani menyentuh paha Azarin. “Santai saja. Saya cuma—” “Saya tidak tertarik dengan apa pun selain pekerjaan. Dan tolong, jangan melakukan hal kotor sama saya. Mengenai pembicaraan apa pun dengan papa saya, saya tidak ikut andil dan saya tidak ingin terlibat.” Tatapan pria itu berubah. Tidak lagi santai. “Kalau begitu,” katanya pelan, “mungkin kita tidak cocok bekerja sama dan juga tidak cocok dengan perjodohan itu.” Azarin berdiri. “Kalau syarat kerja sama adalah saya harus menoleransi sikap menjijikkan seperti ini, memang kita tidak cocok.” Ia mengambil berkasnya tanpa terburu-buru. “Meeting selesai. Saya permisi.” Wanita itu lantas berjalan menuju pintu. Ardi tertawa. “Jangan sok suci!” Azarin berhenti, menatap Ardi tajam. “Asal Anda tahu, saya melihat apa yang sudah Anda lakukan bersama sekretaris Anda tadi. Menjijikkan.” Azarin lekas berbalik dan keluar. Langkahnya cepat, napasnya berat. Ia buru-buru naik mobil bersama sopir, sampai akhirnya tiba di kantor. “Apa yang sudah kamu lakukan?!” Suara Budi langsung menyambar begitu Azarin masuk ke ruangannya. Azarin berdiri di depan meja, masih membawa berkas yang tadi. “Menyelesaikan meeting.” “Kamu meninggalkan klien secara tidak sopan! Ardi marah-marah! Dia klien utama kita! Kamu pikir proyek ini kecil?!” Azarin menatapnya. “Aku nggak peduli sebesar apa proyeknya kalau aku harus diperlakukan nggak pantas.” “Tidak pantas? Atau kamu yang tidak bisa mengontrol diri?” Mata Azarin sedikit membesar. “Dia nyentuh aku!” “Itu hanya basa-basi!” “Tapi menurutku menjijikkan!” “Kalaupun menyentuh, Papa rasa wajar. Bukankah sudah Papa bilang kemungkinan dia akan menjadi calon suamimu?” Azarin mengepalkan tangan. “Jadi aku yang salah? Aku menjaga martabat dari pria b4jingan, itu salah? Papa juga tega-teganya ingin menjodohkanku dengan pria mata keranjang seperti dia.” “Kamu meninggalkan klien tanpa penyelesaian. Itu faktanya.” “Karena dia melecehkanku!” “Perusahaan ini tidak butuh orang yang emosional.” “Bahkan sebelum aku masuk, aku lihat dia berbuat m3sum sama sekretarisnya.” “Itu bukan urusan kita! Gara-gara kamu, perusahaan kehilangan klien penting dan proyek bernilai milyaran. Juga proyek jangka panjang.” Kalimat itu menutup segalanya. Proyek jangka panjang. Azarin cukup paham itu. “Apa Papa maunya aku dil3cehkan? Asal proyek jatuh ke tangan perusahaan kita? Papa menumbalkanku? Papa juga mau aku terikat sama pria bej4t sepertinya?” “Mulai minggu depan, kamu dipindahkan ke Surabaya.” Azarin terdiam. “Belajar lagi dari bawah. Dan jangan harap kamu bisa pindah atau berhenti kerja sebelum bisa mengganti nilai proyek itu.” “Pa, ini nggak adil! Dia yang salah, aku yang nanggung!” “Gajimu dipotong untuk ganti rugi.” Sunyi. Azarin menatap meja di depannya beberapa detik. Makin ia protes, makin banyak hukuman yang harus dijalani. “Pergi dan mulai kemasi barangmu. Balik lagi sana ke Surabaya. Di sana memang lebih cocok untukmu.” Azarin mengangguk pelan. Lebih baik ia mengalah. “Baiklah.” Satu kata, tanpa perlawanan, tetapi cukup untuk menandai bahwa hari itu, ia tidak hanya kehilangan proyek. Ia juga kehilangan tempatnya. “Ini hukuman sekaligus keputusan terbaik.” “Untuk perusahaan … atau untuk Papa?” tanya Azarin pelan. Budi akhirnya menatapnya lagi. Tatapan yang sama. Dingin. “Untuk keduanya.” “Oke fine!” Azarin tertawa kecil. Tidak ada bahagia di sana. Hanya rasa kosong yang perlahan menyebar. Ia tidak membela diri lagi, tidak meminta pengertian, tidak berharap apa pun. Gadis itu hanya mengambil map di meja, merapikannya tanpa terburu-buru. Lalu berbalik. Langkahnya ringan. Terlalu ringan untuk seseorang yang baru saja kehilangan tempatnya. Lebih baik seperti itu, daripada harus terikat seumur hidup dengan pria m3sum. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti sebentar. Tanpa menoleh, ia berkata pelan. “Kalau harga diri dianggap kesalahan dan menolak pria m3sum sebuah dosa, mungkin aku memang nggak cocok di sini. Dan nggak cocok jadi anak Papa.” Klik. Pintu terbuka, lalu tertutup. Tanpa suara keras, tetapi cukup untuk meninggalkan sesuatu yang tidak akan kembali sama lagi. Bahwa ia dibuang dengan dalih pindah tugas. Kejadian itu sudah beberapa tahun silam. Namun, Azarin selalu ingat tiap detailnya dan tidak akan pernah dilupa. Wanita itu kini melamun di dalam pesawat, mendadak teringat masa itu lagi. Sementara di tempat lain .... "Jadi, ini adalah proposal yang tidak bisa ditolak, ya, Pak Jusuf?" Suara Budi datar, tetapi setiap katanya seperti batu bata yang ditata rapi untuk membangun tembok kepentingan. Jusuf Abdillah Mahardika, kepala keluarga Mahardika yang takhta bisnisnya merambah gedung besar pencakar langit dan jalan tol, menyeringai tipis. Jari-jarinya yang berisi mengetuk-ngetuk berkas proposal merger proyek tol laut Jawa-Bali. "Kita sebut saja ini penyelarasan strategis, Budi. Valdora punya bahan baku terbaik. Mahardika punya lahan dan jaringan proyek yang tak terbantahkan. Tapi kerja sama besar butuh ikatan yang lebih … privat." Matanya tajam dan berhitung, menyipit. Pria itu mengubah posisi duduk menjadi lebih santai. “Bagaimana kalau kita besanan? Saya punya dua putra. Abimana dan Pandu. Kamu punya dua putri. Nanti kita atur pertemuan. Kira-kira, siapa yang cocok untuk siapa,” lanjut Jusuf. “Tapi saya dengar berita burung, putri sulungmu adalah ....” Budi tertawa. “Kabar burung memang menyebar dan menetap permanen.” “Bukan masalah. Lagi pula, putra pertama saya juga disabilitas. Tapi dia sangat cerdas. Atau Pandu. Dia masih muda, masih suka bersenang-senang, tapi ide-idenya untuk perusahaan juga cemerlang.” Budi mengembuskan napas panjang. “Azarin. Anak itu memang anak saya. Darah saya. Meski ibunya .…" Kalimatnya menggantung, sengaja. “Kalau Alya, dia masih terlalu muda.” Azarin, si anak dari hasil hubungan masa lalunya yang hanya diakui demi menghindari skandal, adalah pion yang sempurna. Pion yang bisa dikorbankan untuk mengamankan aliran semen dan beton ke setiap proyek Mahardika. "Justru itu, Budi," sambung Jusuf, senyumnya kini lebih lebar, lebih dingin. "Siapa namanya tadi? Azarin? Ini akan memberinya legitimasi. Sebuah nama, Mahardika. Dan bagi Abimana, seorang istri dari keluarga terpandang akan menenangkan spekulasi. Sebuah win-win solution, bukan? Kita bisa merinci syarat-syarat pra-nikah di dokumen terpisah. Termasuk kuota pasokan eksklusif Valdora untuk seluruh proyek Mahardika Group untuk lima tahun ke depan." Budi terdiam. “Atau ... dua anak saya, untuk anakmu semua?” Jusuf tertawa. “Akan saya pikir dan diskusikan dulu pada yang bersangkutan, Pak Jusuf. Karena ini juga menyangkut hidupnya.” “Baiklah. Nanti kita atur yang lain-lainnya. Saya dengar juga, putrimu itu pernah menolak perjodohan sebelumnya?” Budi tertawa. “Itu sudah lama. Saya yakin, kali ini dia tidak akan menolak.” Di tempat lain, tanpa dua pria paruh baya itu ketahui, salah satu garis takdir mulai bekerja. “Ya. Sekalian kita pulang bareng. Awas kalau sampai lo tinggal gue.” Suara bariton itu lalu berhenti. “Maaf, ini kursinya agak sempit, ya? Atau lutut saya yang kepanjangan?” Suara yang sama kembali terdengar setelah ia duduk. Azarin mendongak dari layar ponselnya, menatap pria di sebelahnya yang sedang berusaha duduk tanpa menyikut siapa pun. “Kursinya yang jahat,” jawab Azarin enteng. “Bukan lutut kamu. Pesawat kelas ekonomi emang suka nyiksa. Tapi, mungkin juga lutut kamu yang terlalu panjang. Bisa dilipat dikit dulu mungkin?” Pria itu tertawa kecil. “Oke, berarti saya korban sistem.” “Udah tahu kelas ekonomi itu serba lite, tetep aja naik. Harusnya pakai kelas bisnis. Atau first class sekalian,” kata Azarin sambil menyelipkan ponsel ke tas. Pria itu tertawa lagi. “Sudah habis, adanya ini. Ya sudah, ambil. Kenalkan. Saya ....”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
756.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
988.5K
bc

A Warrior's Second Chance

read
365.0K
bc

Not just, the Beta

read
351.0K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook