BAB 7

1048 Kata
Hujan di luar semakin menderu, seolah waktu merangkak lambat bagi Garda dan hari ini adalah hari yang sudah dirancang itu akhirnya tiba juga. Langit malam itu pekat, dihiasi rintik hujan tipis yang membawa aroma tanah basah, aroma yang kini selalu mengingatkan Garda pada sosok gadis di kamar bawah. Kini, Garda telah berdiri di depan pintu kamar Dara. Tidak ada lagi keraguan yang kaku seperti sebelumnya. Ketika ia memutar kenop pintu dan melangkah masuk, ia sudah menemukan Dara sedang duduk di tepi ranjang dengan mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna putih yang kontras dengan warna kulitnya yang hangat. Dara mendongak, matanya membulat saat melihat Garda tidak langsung menuju lampu untuk mematikannya. Kali ini, pria itu membiarkan lampu tidur yang temaram tetap menyala, memandikan ruangan dengan cahaya kuning keemasan yang intim. "Tuan..." suara Dara bergetar, namun bukan karena takut. Ada antisipasi yang ia sendiri malu untuk akui. Garda berjalan mendekat tanpa suara, lantas ia pun berhenti tepat di depan Dara dan kini perlahan berlutut di hadapannya. Sebuah gestur yang meruntuhkan segala kasta di antara tuan dan alatnya. Ia meraih kedua tangan Dara, membaliknya, dan memeriksa telapak tangan yang kemarin sempat memerah. "Sudah tidak sakit?" bisik Garda, suaranya serak dan berat. Dara menggeleng pelan, napasnya mulai memburu. "Sudah agak enakan karena salep dari Tuan kemarin." Garda mengecup lembut telapak tangan itu, sebuah sentuhan yang jauh lebih membakar daripada api. Ia kemudian berdiri, menarik Dara untuk ikut berdiri bersamanya. Tanpa sepatah kata pun, Garda menangkup wajah Dara dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Dara yang bergetar. "Malam ini..." Garda berbisik tepat di depan bibir Dara, "Lupakan soal kesepakatan itu. Lupakan soal Rissa. Lupakan bahwa ini adalah tugas." "Tapi Tuan..." "Jangan sebut aku 'Tuan' malam ini," geram Garda rendah, suaranya parau oleh gairah yang sudah di ujung tanduk. Dara menelan salivanya sendiri, baru ingin memulai interupsi kembali tetapi Garda sudah lebih menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam dan menuntut. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya yang terasa mekanis dan dingin, kali ini Garda menciumnya dengan rasa lapar yang bak sudah tertahan selama bertahun-tahun. Ciuman itu adalah campuran antara proteksi dan kepemilikan yang posesif. Kini, tangan Garda pun mulai berpindah ke tengkuk Dara, menariknya lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka. Garda mulai membimbing Dara perlahan menuju ranjang. Saat tubuh mereka menyentuh kasur yang empuk, kehangatan menjalar ke seluruh saraf. Garda melepaskan kancing kemejanya satu per satu tanpa melepaskan pandangannya dari Dara. Di bawah cahaya temaram, otot-otot tubuhnya yang tegap tampak berkilau, memancarkan aura maskulin yang mendominasii. "T-tuan..." "Ssshh... Aku sudah katakan, untuk tidak memanggilku dengan sebutan itu." Dara meremas sprei dengan gemetar dan tanpa peringatan serta aba-aba, Garda menerjang jarak di antara mereka. Ia mencengkeram kedua tangan Dara, menguncinya di atas kepala gadis itu saat tubuhnya yang tegap menindih ranjang. Napas Garda terasa panas dan memburu di ceruk leher Dara. Sentuhan Garda kini tidak lagi kasar. Ia menjelajahi setiap inci kulit Dara dengan ujung jarinya, seolah sedang memetakan wilayah baru yang berharga. Ketika jemarinya menyentuh bahu Dara yang halus, gadis itu mengeluarkan desahan kecil yang tertahan di kerongkongan. Saat kulit mereka bertemu, sebuah sengatan listrik yang menyakitkan sekaligus candu merambat ke seluruh saraf. Malam itu, menjadi medan perang emosi yang panjang. Garda menyesap setiap rintihan Dara seolah itu adalah nyawa baginya. Ia membenamkan wajahnya di rambut Dara, menghirup aroma sabun murah yang kini jauh lebih ia puja daripada parfum mewah istrinya. Tangannya yang kasar menjelajahi lekuk tubuh Dara tanpa celah, memberikan sensasi panas yang membuat Dara lupa akan statusnya, lupa akan Rissa, dan lupa akan peringatan hatinya sendiri. "Katakan padaku," bisik Garda di tengah pergulatan panas yang tak berujung itu dan dengan suara yang bergetar hebat. "Katakan kalau kamu juga menginginkan ini... bukan karena uang, bukan karena kontrak." Dara hanya bisa mendongak, matanya berkaca-kaca saat merasakan penyatuan yang begitu intens dan emosional. Ia melingkarkan lengannya di leher Garda, menarik pria itu semakin dalam ke dalam pelukannya. "Tuan... Garda..." tangisnya pecah, dan itu adalah jawaban yang lebih dari cukup. Mereka memacu malam hingga fajar hampir menyapa. Tidak ada jeda bagi raga yang sudah terlanjur terbakar. Setiap kali Garda mencapai puncaknya, ia kembali memeluk Dara dengan protektif, seolah takut gadis itu akan menguap bersama kabut pagi. Ia tidak membiarkan Dara menjauh barang seinci pun dan ia ingin, kulit mereka terus bersentuhan, ingin degup jantung mereka saling beradu hingga batas antara keduanya hilang. Di bawah rembulan yang mulai meredup, Garda terus menjamah Dara dengan rasa lapar yang seolah tak akan pernah terpuaskan. Malam panjang itu bukan lagi tentang ahli waris. Itu adalah malam di mana Garda Jayanegara menyerahkan jiwanya pada seorang gadis yang seharusnya hanya menjadi alat, namun kini telah menjadi seluruh dunianya. Saat akhirnya kelelahan merenggut kesadaran mereka, Garda tetap mengunci Dara dalam dekapannya. Keesokan harinya. Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, menyelinap melalui celah gorden yang sedikit terbuka, membawa cahaya abu-abu yang dingin ke dalam kamar yang masih terasa hangat oleh sisa-sisa gairah semalam. Suasana hening, hanya menyisakan suara napas teratur Dara yang tertidur lelap dalam dekapan Garda. Garda terbangun lebih dulu. Ia tidak langsung bergerak. Matanya terpaku pada wajah Dara yang tampak begitu damai dalam tidurnya dan jejak air mata semalam sudah mengering, menyisakan rona merah yang samar di pipinya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Garda merasa memiliki "rumah", meski ia tahu rumah ini dibangun di atas pondasi yang rapuh. Perlahan, Garda melepaskan dekapannya dengan sangat hati-hati, seolah Dara adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja. Ia bangkit, mengenakan kembali kemejanya yang berserakan di lantai tanpa mengancingkannya. Ia berjalan menuju jendela, menatap taman di bawah sana yang sudah ditanami oleh Dara dengan penuh semangat sejak kemarin. Dara mulai membuka kelopak matanya dan tersadar dari mimpinya semalam. Rasanya, ia merasakan tubuh hangat itu beberapa saat yang lalu tetapi seperti biasa, pasti orang yang memberinya kehangatan itu telah pergi dari sini. Dara pun bangun dengan perlahan dan terperanjat, saat mendengar suara berat di dekat balkon kamar. "Selamat pagi... Dara." Dara dengan cepat menoleh dan menemukan lelaki yang biasanya sudah meninggalkannya seorang diri di dalam kamar, tetapi kini malah bertengger di dekat balkon sana. "Tuan... kenapa Tuan masih ada di sini?" tanya Dara keheranan beserta dengan wajah bantalnya itu. "Kenapa? Apa aku tidak boleh berada di sini? Ini rumahku, bukan?" ucap Garda yang kemudian berjalan ke arah ranjang dan menaruh kedua tangannya di sisi ranjang di dekat Dara persis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN