Garda kemudian meraih dagu Dara, memaksanya untuk menatap mata tajamnya. "Jangan biarkan siapapun mencuri kebahagiaan kecilmu, Dara. Termasuk Rissa."
Sentuhan Garda terasa panas di kulit Dara, namun kata-katanya memberikan perlindungan yang selama ini tak pernah ia bayangkan akan datang dari pria "dingin" ini. Di tengah ketegangan itu, Garda menyadari sesuatu. Ia baru saja menyatakan perang terbuka terhadap aturan yang dibuat oleh istrinya sendiri, demi seorang wanita yang seharusnya hanya menjadi alat baginya.
Dara terpaku, napasnya tertahan di kerongkongan. Ibu jari Garda yang kasar namun hangat masih bertumpu di dagunya, memaksa netranya untuk tenggelam dalam tatapan pria itu yang sekeras karang namun menyimpan riak emosi yang tak terbaca.
"T-tapi Tuan... Nyonya Rissa sangat marah. Saya nggak mau menjadi penyebab keributan di antara kalian," bisik Dara, suaranya nyaris hilang.
Garda melepaskan cengkeramannya, lalu berbalik memunggungi Dara. Ia berjalan menuju jendela kamar yang menghadap langsung ke arah taman yang baru saja dikerjakan Dara. Dari sini, di bawah temaram lampu taman yang mulai menyala, ia bisa melihat gundukan tanah yang tertata rapi. Sebuah bukti kerja keras dan harapan yang sederhana dari seorang gadis biasa.
"Keributan itu sudah ada jauh sebelum kamu datang, Dara," ujar Garda dingin, matanya menatap tajam ke luar. "Rissa hanya takut kehilangan kendali. Dan dia menggunakanmu sebagai pengingat bahwa dia masih memegang kendali itu."
Garda terdiam sejenak, lalu ia berbalik kembali menatap Dara. "Mulai besok, teruskan kegiatanmu di taman. Jika pelayan atau siapapun bertanya, katakan itu adalah perintah langsung dariku. Jika Rissa meneleponmu, jangan diangkat. Biar aku yang mengurusnya."
Dara merasakan sebuah beban berat terangkat dari pundaknya, namun digantikan oleh rasa cemas yang baru. Keberanian Garda melindunginya terasa seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, ia merasa aman, namun di sisi lain, ia tahu bahwa semakin Garda membelanya, semakin besar api cemburu yang akan membakar Rissa nantinya.
"Tuan... kenapa Anda melakukan ini?" tanya Dara tiba-tiba. Keberanian itu muncul entah dari mana. "Bukankah saya hanya 'alat' untuk memberikan ahli waris? Kenapa Tuan peduli jika saya bahagia atau pun nggak di sini?"
Pertanyaan itu menghantam Garda tepat di ulu hati. Ia tertegun. Ia sendiri tidak tahu jawabannya. Harusnya ia membiarkan Dara menangis, harusnya ia tidak peduli pada taman kecil itu. Tapi melihat binar mata Dara saat memegang tanah pagi tadi telah meruntuhkan dinding pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun.
Garda tidak menjawab. Ia hanya melangkah menuju pintu. Namun, sebelum ia benar-benar keluar, ia berhenti di ambang pintu tanpa menoleh.
"Karena di rumah yang penuh dengan kepalsuan ini, hanya senyummu di taman itu yang terasa nyata, Dara."
Blam.
Pintu tertutup rapat, meninggalkan Dara dalam keheningan yang menyesakkan. Jantungnya berdegup kencang. Kalimat Garda bukan sekadar pembelaan, itu adalah sebuah pengakuan yang sangat berbahaya. Biarpun Dara sendiri enggan menyimpulkannya sendiri. Ia tidak mau berharap lebih dan ia juga masih teringat kata-kata Garda, di saat malam pertama mereka. Tidak boleh. Tidak boleh menyimpan rasa dan sangat dilarang keras untuk mencintainya.
Sementara itu, di ruang kerjanya, Garda langsung menyambar ponselnya. Ia melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Rissa. Dengan rahang yang masih menegang, ia menekan tombol panggil balik dan langsung dijawab oleh Rissa sendiri.
"Sayang! Akhirnya kamu angkat juga! Kamu tahu apa yang dilakukan perempuan itu di belakangku?" suara melengking Rissa langsung menyambutnya.
"Aku tahu, Rissa," potong Garda dengan suara rendah yang mengancam. "Karena aku yang menyuruhnya. Dan dengar baik-baik, jangan pernah lagi kamu mengintimidasii orang-orang di rumah ini lewat pelayanmu saat aku sedang bekerja. Jika kamu punya masalah dengan apa yang terjadi di rumahku, bicarakan langsung padaku saat kamu pulang. Jangan berani menyentuh apa yang sudah aku izinkan."
Di seberang sana, Rissa mendadak terdiam seribu bahasa. Ia belum pernah mendengar Garda membela siapapun dengan nada sedingin dan setegas itu, terutama jika itu menyangkut Dara. Kemarahan Rissa kini mencapai puncaknya, berubah menjadi sebuah rencana yang lebih gelap untuk menyingkirkan "gangguan" itu secepat mungkin.
Rissa memutuskan sambungan telepon dengan tangan gemetar. Ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang hotel yang empuk, namun hatinya terasa panas seperti terbakar. "Dia membelanya? Garda Jayanegara membela wanita rendahan itu?" gumamnya tak habis pikir.
Rissa tahu, ia tidak bisa lagi bermain halus. Jika Garda sudah mulai melibatkan perasaan. Meskipun hanya sebatas rasa iba, maka posisinya sebagai nyonya tunggal di keluarga itu terancam. Ia harus segera mempercepat proses ini. Dara harus segera hamil, memberikan anak, lalu diusir sejauh mungkin sebelum benih-benih ketertarikan Garda tumbuh lebih mendalam.
Malam itu, suasana di meja makan terasa sangat kaku. Dara duduk dengan kepala tertunduk, hanya berani menyentuh pinggiran piringnya. Di ujung meja, Garda makan dengan tenang, namun tatapannya sesekali tertuju pada tangan Dara yang terlihat kemerahan karena terlalu lama memegang sekop pagi tadi.
"Pakai ini," ujar Garda tiba-tiba sambil meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja, menggesernya ke arah Dara.
Dara mendongak, bingung. "Apa ini, Tuan?"
"Salep untuk luka dan kulit lecet. Aku lihat tanganmu kasar karena berkebun tadi," ucap Garda tanpa menoleh, tetap fokus pada makanannya
.
Dara menyentuh kotak itu dengan ragu. "Terima kasih... tapi saya nggak apa-apa kok. Saya udah terbiasa bekerja kasar di rumah bibi."
"Di sini kamu tidak perlu bekerja kasar," sahut Garda tegas. Ia meletakkan sendoknya dan menatap Dara lurus-lurus. "Besok, Bi Sumi akan memberikan sarung tangan khusus berkebun. Gunakan itu. Aku tidak ingin melihat tanganmu terluka lagi."
Dara hanya bisa mengangguk pelan. Perhatian kecil ini terasa lebih mengintimidasii daripada kemarahan Rissa. Ada sesuatu dalam nada bicara Garda yang mulai melunak, sesuatu yang membuat Dara merasa seolah-olah ia bukan lagi sekadar "penyewa rahim", melainkan seseorang yang keberadaannya mulai diperhitungkan.
Setelah makan malam selesai, Garda tidak langsung kembali ke kamarnya. Ia berdiri di balkon lantai dua, menghisap rokoknya sambil menatap taman kecil yang kini tampak gelap. Ia memikirkan kata-katanya sendiri di telepon tadi kepada Rissa. Ia tahu ia telah memicu perang dengan istrinya sendiri dan semua itu, hanya untuk membela seorang gadis baru di rumah mereka ini.
Tiba-tiba saja, ia mendengar suara pintu balkon di kamar bawah terbuka pelan. Dara melangkah keluar, mengenakan syal rajutan ibunya untuk menghalau dinginnya angin malam. Gadis itu tidak menyadari keberadaan Garda di atasnya. Dara berjalan menuju sebidang tanahnya, berjongkok di sana dalam kegelapan, dan membelai salah satu bibit yang baru ditanamnya.
"Sabar ya... kita akan tumbuh bersama di sini," bisik Dara lirih.
Garda mematikan rokoknya, matanya tak lepas dari sosok mungil di bawah sana. Keinginan untuk turun dan berdiri di samping gadis itu sangat kuat, namun ia menahannya. Ia tahu, setiap langkah yang ia ambil mendekat ke arah Dara adalah langkah yang akan membuat hidup gadis itu semakin sulit jika Rissa mengetahuinya.
Namun, di bawah sinar bulan yang redup, Garda menyadari satu hal yang paling ia takuti sendiri. Ia mulai tidak sabar menunggu lusa, saat jadwal 'tugas' itu tiba bukan karena ia menginginkan seorang ahli waris, melainkan karena ia ingin berada di dekat Dara tanpa perlu mencari alasan botani atau AC yang rusak lagi.