BAB 11

1503 Kata
Malam itu, Dara jatuh sakit. Demam menyerangnya sebagai akibat nekat bermain hujan-hujanan. Rissa masih belum kembali dari luar kota, sehingga hanya ada Garda dan beberapa pelayan saja di sana. Garda yang biasanya akan menyerahkan segala urusan medis kepada dokter atau perawat, malam itu justru tidak bisa tenang. Ia masuk ke kamar Dara dan menemukan wanita itu menggigil di bawah selimut, meracau kecil dalam tidurnya. "Dingin... Ibu... jangan ambil..." Garda duduk di tepi ranjang. Ia mengambil kain kompres yang sudah disediakan pelayan dan memerasnya sendiri. Dengan tangan yang biasanya digunakan untuk menandatangani kontrak jutaan dolar, ia meletakkan kain dingin itu di dahi Dara dengan perlahan dan juga sangat hati-hati. Saat tangannya tak sengaja bersentuhan dengan kulit leher Dara yang panas, ada getaran aneh yang menjalar ke jantung Garda. Ini bukan lagi sekadar nafsu mekanis yang ia rasakan pada jadwal-jadwal rutin mereka. Ini adalah rasa protektif yang menyakitkan. Tiba-tiba, tangan kecil Dara bergerak, meraih jemari Garda dan menggenggamnya erat, seolah-olah Garda adalah satu-satunya tumpuan hidupnya. "Jangan pergi..." racau Dara lirih. Garda terpaku. Ia seharusnya melepaskan tangan itu. Ia tahu batasannya. Ia tahu bahwa kontrak ini akan berakhir dalam hitungan bulan, dan setelah itu Dara harus pergi. Namun, batinnya memberontak. Melihat Dara yang begitu rapuh dan bergantung padanya, Garda merasakan sebuah peran yang tidak pernah ia duga-duga sebelumnya, yaitu 'peran sebagai pelindung.' Garda tidak melepaskan tangan itu. Sepanjang malam, Garda tetap duduk di sana, membiarkan tangannya digenggam erat oleh wanita yang seharusnya tidak ia dekati hingga sejauh ini. Keesokan harinya, demam Dara menurun. Saat ia membuka mata, ia pun cukup terkejut saat menemukan Garda tertidur di kursi samping ranjangnya, dia tampak kusut dan lelah. Garda terbangun saat mendengar gerakan Dara. Ia langsung berdeham, mencoba mengembalikan kewibawaannya. "Kamu sudah bangun. Jangan melakukan hal bodoh seperti kemarin lagi." "Tuan... apakah Tuan menunggu saya semalaman di sini?" Garda berdiri sambil merapikan kemejanya yang lecek. "Aku hanya memastikan investasiku tidak rusak karena keteledoranmu." Namun, ucapan pedas itu tidak lagi terdengar meyakinkan di telinga Dara. Ia melihat ada kantung mata di wajah Garda. Dan yang lebih mengejutkan lagi, di atas nakas, ada segelas cokelat hangat yang sengaja disiapkan. "Minum itu juga..." Garda mendekat lalu menaruh telapak tangannya di dahi Dara. "Kamu sudah lebih baik dan sebaiknya jangan melakukan hal bodoh seperti kemarin lagi. Pikirkanlah kandunganmu itu," ujar Garda. "Baik, Tuan. Maaf, kalau saya terlalu ceroboh kemarin. Saya janji, akan menjaga anak ini dengan baik," ucap Dara sembari menyentuh perutnya sendiri dengan kedua tangannya. Garda berdengus dan kemudian menatap ke arah lain. "Ya sudah. Duduk dan diam lah di sini. Sebentar lagi Bi Sumi akan mengantarkan sarapan untuk kamu. Jangan lupa dihabiskan dengan vitaminnya juga," pesan Garda sembari berjalan ke arah pintu kamar. Garda berhenti di ambang pintu, namun ia tidak menoleh. Ada jeda panjang sebelum ia menjawab. "Istirahatlah yang cukup dan jangan pergi kemanapun itu hari ini." Garda keluar dengan langkah cepat, jantungnya berdegup kencang. Ia menyadari satu hal yang mengerikan. Ia mulai tidak tahan melihat Dara sebagai orang asing. Setiap kali ia melihat perut Dara yang dia sentuh itu batinnya teriris. Bukan karena ia akan memiliki anak, tapi karena ia tahu bahwa perannya dalam hidup Dara hanyalah sebagai pria yang suatu hari nanti akan mengusirnya demi seorang anak. Garda mulai merasa terjebak dalam perannya sendiri. Sebagai suami Rissa, ia harus setia pada rencana mereka. Namun sebagai pria yang memiliki hati, ia mulai merasa bahwa memberikan Dara berlian atau rumah tidak akan pernah cukup untuk menebus luka yang ia torehkan di jiwa wanita itu setiap harinya. Sejak hari itu, dinamika di antara mereka berubah menjadi sebuah tarian rahasia yang menyesakkan. Garda mulai sering pulang lebih awal, namun alih-alih menemui Rissa di ruang tengah, ia akan langsung menuju kamar Dara dengan alasan ingin mengecek "perkembangan janin". Rissa, dengan segala keanggunannya, mulai mencium perubahan itu. Ketajaman instingnya sebagai istri sah mulai menangkap nada suara Garda yang melembut saat menyebut nama Dara. Namun, Rissa memilih untuk tetap tenang. Dia tetap memainkan peran sebagai nyonya rumah yang murah hati, meski matanya memancarkan peringatan yang makin dingin. Karena ia tahu dan sadar, bila waktu wanita itu pun di sini tidak akan lama lagi. Suatu sore, Dara sedang duduk di kursi balkon, mencoba menjahit sebuah baju bayi kecil dari kain katun lembut yang ia beli secara sembunyi-sembunyi melalui pelayan. Jemarinya yang gemetar tiba-tiba tertusuk jarum hingga darah segar menetes di kain putih itu. "Awh..." Dara meringis, reflek menghisap jarinya sendiri. "Ceroboh." Dara terlonjak. Dia melihat Garda yang sudah berdiri di belakang tubuhnya saja. Tanpa menunggu izin, Garda menarik kursi kecil dan duduk di depan Dara. Ia meraih tangan Dara, memeriksa luka kecil di jarinya dengan kerutan dalam di dahi. "Kenapa melakukan ini sendiri? Kita bisa membeli ribuan baju bayi yang jauh lebih mewah dari ini," ucap Garda sambil mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya untuk membalut jari Dara. "Baju-baju mewah itu nggak punya doa di setiap jahitannya, Tuan," jawab Dara sambil dengan tersenyum kaku. Garda terdiam. Dadanya berdesir. Ia menatap baju bayi yang setengah jadi itu, lalu menatap Dara. "Kamu tahu, dia tidak akan pernah memakai ini di depanmu, kan?" Mata Dara berkaca-kaca, namun ia tersenyum tipis. "Saya tahu. Tapi seenggaknya, saat dia memakainya nanti, ada bagian dari cinta saya yang menyentuh kulitnya, meskipun dia nggak mungkin tahu juga siapa saya ini." Garda merasa seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Bagaimana bisa wanita yang ia perlakukan dengan begitu rendah ini memiliki hati yang begitu luas? Rasa iba itu kini bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih berbahaya, yaitu 'kekaguman yang menyakitkan.' Garda merasa dunianya yang selama ini teratur dan penuh logika mulai runtuh. Ia selalu percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki harga, termasuk kesetiaan dan kasih sayang. Namun, di depan Dara, wanita yang seharusnya hanya menjadi "wadah" bagi ahli warisnya belaka, Garda merasa menjadi pria yang sangat miskin. "Berhenti mengatakan hal-hal seperti itu," bisik Garda, suaranya parau. Ia tidak melepaskan tangan Dara, justru menggenggamnya lebih erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, ia akan kehilangan pegangan pada realitasnya sendiri. Dara hanya menunduk, air matanya jatuh tepat di atas sapu tangan mahal milik Garda yang melilit jarinya. "Maafkan saya, Tuan. Saya hanya... saya hanya mencoba untuk nggak melupakan bahwa saya adalah seorang ibu, meski hanya untuk sebentar saja." Keheningan yang mencekam menyelimuti balkon itu. Angin sore bertiup dingin, namun ketegangan di antara mereka terasa begitu panas. Tanpa sadar, Garda mengikis jarak. Ia mengangkat tangan satunya untuk menyentuh pipi Dara, menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. Gerakannya begitu lembut, jauh dari sosok dingin yang biasanya ia tampilkan di depan publik maupun di depan Dara sendiri. Tepat saat wajah mereka hanya berjarak beberapa inci, sebuah suara ketukan sepatu hak tinggi terdengar dari arah pintu kamar yang terbuka. "Sayang? Oh, ternyata kamu di sini." Suara Rissa memecah suasana bagaikan hantaman palu pada kaca. Garda segera menarik tangannya dan berdiri dengan gerakan kaku, sementara Dara hampir terjatuh dari kursinya karena terkejut. Rissa berdiri di ambang pintu balkon, mengenakan gaun sutra berwarna marun yang kontras dengan wajahnya yang pucat namun tetap tersenyum sempurna. Matanya menyapu pemandangan di depannya, sapu tangan Garda di tangan Dara, posisi duduk suaminya yang terlalu dekat, dan sisa air mata di wajah wanita itu. "Aku baru saja pulang dan Bi Sumi bilang kamu langsung ke sini," ujar Rissa sambil berjalan mendekat, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia merangkul lengan Garda dengan posesif. "Bagaimana perkembangan calon anak kita? Apakah dia merepotkanmu lagi hari ini, Dara?" "Ti-tidak, Nyonya. Saya baik-baik saja," jawab Dara dengan suara bergetar, ia buru-buru menyembunyikan baju bayi yang sedang dijahitnya di balik bantal kursi. Rissa melirik sekilas ke arah bantal itu, kilatan dingin melintas di matanya sesaat sebelum ia kembali menatap Garda. "Sayang, ayo turun. Makan malam sudah siap, dan aku punya kabar baik tentang yayasan yang harus kubagi denganmu." Garda mengangguk singkat, namun matanya sempat mencuri pandang ke arah Dara yang kini menunduk dalam, tampak kecil dan terisolasi. "Ayo," jawab Garda pendek. Saat berjalan keluar, Rissa sempat berhenti di samping Dara. Ia membungkuk sedikit, berbisik cukup pelan sehingga hanya Dara yang bisa mendengarnya, namun cukup tajam untuk mengiris keberanian wanita itu. "Ingat posisimu, Dara. Jangan biarkan hormon kehamilanmu membuatmu lupa siapa yang memegang kendali di rumah ini. Kain murahan tidak akan pernah pantas berada di lemari anakku." Pintu balkon tertutup rapat, meninggalkan Dara sendirian dalam kegelapan sore yang mulai turun. Di genggamannya, sapu tangan Garda masih menyisakan aroma parfum pria itu. Maskulin, mewah, dan sangat tidak terjangkau. Di lantai bawah, di meja makan yang penuh dengan hidangan mewah, Garda tidak bisa merasakan rasa makanannya sama sekali. Ia melihat Rissa yang bercerita panjang lebar tentang kehidupan sosialnya, namun pikirannya sendiri malah tertinggal di balkon tadi. Ia menyadari, bahwa ia bukan lagi sekadar pelindung bagi janin di rahim Dara. Ada rasa yang tidak cukup hanya dilukiskan dengan kata-kata. Tapi yang pasti, Garda mulai merasa, bila setiap detik yang berlalu menuju hari kelahiran, adalah hitungan mundur menuju sebuah kehancuran yang tidak pernah ia inginkan. Garda terjebak dalam perang antara janji yang ia buat kepada istrinya, dan sebuah rasa yang tumbuh subur di tengah rasa bersalah. Sampai akhirnya ia bingung harus bagaimana dalam bersikap, terutama pada gadis 'sewaannya' itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN