BAB 10

1443 Kata
Tiga puluh menit kemudian, suasana kamar Dara terasa mencekam. Dokter keluarga Jayanegara, dr. Hendra, baru saja menyelesaikan pemeriksaan singkat dan meletakkan stetoskopnya. Di sudut ruangan, Rissa berdiri dengan dagu terangkat, sementara Garda bersandar di dekat jendela, matanya tak lepas dari sosok Dara yang meringkuk lemah di atas ranjang besar yang tampak menelan tubuh kecilnya. "Bagaimana, Dok?" Suara Rissa memecah keheningan, tajam dan penuh tuntutan. Dokter Hendra tersenyum tipis, sebuah senyum profesional yang biasanya membawa kabar bahagia, namun di ruangan ini, senyum itu terasa seperti vonis hukuman mati bagi Dara sendiri. "Selamat, Pak Garda, Bu Rissa. Gejala mual yang dialami Ibu Dara adalah hal yang wajar di trimester pertama kehamilan." Jantung Dara seolah berhenti berdetak. Meski ia sudah menduganya, ketika mendengar konfirmasi medis itu membuat seluruh sendinya terasa lumpuh. Ada nyawa di dalam rahimnya. Nyawa yang bukan miliknya, melainkan milik kontrak yang ia tanda tangani di atas materai. "Wah! Benarkah!?" Rissa semringah, karena akhirnya keberhasilan itu datang dan itu artinya juga, kontrak akan segera selesai lalu ia bisa mendepak gadis yang kelihatannya polos itu dari sini dan menjauhkannya dari sang suami. Garda sendiri tengah bergeming. Rahangnya menegang. Kabar kehamilan ini seharusnya menjadi puncak kemenangannya sebagai seorang Jayanegara yang membutuhkan pewaris, namun yang ia rasakan justru sesak yang menghimpit paru-paru. Ia menatap Dara, berharap menemukan binar kebahagiaan, namun yang ia lihat hanyalah sepasang mata dengan tatapan yang kosong. Entah apa yang tengah dipikirkannya sekarang. Tapi yang pasti bukanlah sesuatu yang membahagiakan. "Terima kasih, Dok. Bi Sumi akan mengantar Anda ke depan," ujar Garda tanpa nada. Begitu pintu tertutup, Rissa langsung berjalan mendekati ranjang. Ia menatap perut Dara yang masih rata dengan tatapan lapar, seolah ia sedang melihat brankas emas yang baru saja terbuka kuncinya. "Dengar, Dara," suara Rissa kini melunak, namun dinginnya tetap terasa hingga ke tulang. "Mulai detik ini, kamu tidak boleh keluar dari rumah ini tanpa izinku atau Garda. Makananmu, jam tidurmu, bahkan udara yang kamu hirup akan diawasi. Ingat, yang ada di dalam perutmu itu adalah masa depan keluarga ini. Jangan coba-coba bertindak ceroboh." Dara hanya mengangguk pelan, jemarinya meremas selimut dan tanpa seulas senyuman. "Baik, Nyonya." "Panggil aku Rissa jika di depan orang lain, tapi di sini... ingatlah siapa yang memegang kendali," tambah Rissa ketus sebelum berbalik pada suaminya. "Mas, aku ingin kita merenovasi kamar bayi di sebelah kamar kita. Dan pastikan pengacara kita menyiapkan dokumen penyerahan hak asuh lebih awal. Aku tidak mau ada drama saat bayi itu lahir nanti." "Cukup, Rissa," potong Garda dengan suara rendah yang mengancam. "Dia baru saja tahu bila dia sedang hamil. Biarkan dia istirahat." Rissa menaikkan alisnya, sedikit terkejut dengan nada protektif yang terselip dalam suara Garda. Namun, ia hanya mendengus sinis. "Tentu. Aku akan pergi ke butik. Kita rayakan ini dengan makan malam mewah nanti, hanya kita berdua tentunya." Rissa melangkah keluar dengan langkah penuh kemenangan, meninggalkan keheningan yang lebih berat di dalam kamar. Garda masih diam di posisinya. Ia perlahan melangkah mendekati ranjang, lalu duduk di tepiannya. Dara menarik napas gemetar, mencoba menjauhkan tubuhnya meski ruang geraknya terbatas. Kedua-duanya menutup rapat mulut mereka. Seharusnya pasangan yang normal akan bersuka cita dalam menyambut anak mereka, tapi berbeda bila itu ada di posisi Dara maupun Garda sendiri. Mereka seperti merasa serba salah dan tak bisa merasakan euforia menyambut kehadiran anak mereka bersama. "Tuan... apakah setelah ini saya benar-benar harus menyerahkannya?" suara Dara nyaris tak terdengar, pecah oleh isak yang tertahan. Garda menatap tangan Dara yang gemetar. Keinginannya untuk menggenggam tangan itu begitu besar, namun tembok ego dan kontrak yang ia bangun sendiri menghalanginya. "Itu sudah menjadi kesepakatannya, Dara," jawab Garda, suaranya parau. "Kamu mendapatkan uang dan aku mendapatkan ahli waris. Tidak ada ruang untuk perasaan di sini." Garda berdiri, bersiap pergi sebelum pertahanannya runtuh. Namun, tepat sebelum ia mencapai pintu, suara Dara menghentikannya. "Bagaimana kalau... bagaimana kalau saya nggak bisa melepaskannya nanti?" Garda berhenti, punggungnya menegang. Ia tidak menoleh. Ia tahu jika ia berbalik dan melihat wajah Dara yang hancur, ia tidak akan bisa pergi. "Maka kamu akan menghancurkan kita semua," bisik Garda dingin, meski di dalam dadanya, ia tahu bahwa dialah yang pertama kali akan hancur oleh rasa bersalah yang kini mulai menggerogoti nuraninya. Pintu tertutup dengan dentuman pelan, meninggalkan Dara sendirian di kamar yang luas itu, yang kini tengah mengelus perutnya yang masih datar sambil menangisi takdir yang telah terkunci rapat. Di balik pintu, Garda menyandarkan kepalanya ke dinding kayu, memejamkan mata rapat-rapat, menyadari bahwa benih yang tumbuh di rahim Dara bukan hanya seorang ahli waris, melainkan awal dari badai yang akan meruntuhkan seluruh hidupnya. Hari-hari berikutnya di kediaman Jayanegara berubah menjadi sebuah rutinitas yang menyesakkan. Rumah mewah itu kini terasa seperti sangkar emas yang pengap. Rissa benar-benar menjalankan ancamannya. Ia memesan berbagai suplemen terbaik, menyewa ahli gizi pribadi, dan memasang kamera pengawas tambahan di beberapa sudut area privat tempat Dara sering menghabiskan waktu. ​Tapi sore itu, saat Rissa yang lagi-lagi harus keluar dalam beberapa hari, hujan turun membasahi jendela besar di ruang tengah. Dara duduk di sofa, menatap rintik air dengan tangan yang secara refleks mengusap perutnya. Gerakan itu kini menjadi kebiasaan baru yang tanpa sadar ia lakukan, sebuah ikatan naluriah yang seharusnya ia hindari. "Kamu sedang apa?" tanya Garda yang tiba-tiba saja datang dan membuat Dara tersentak kaget. "T-tidak ada, Tuan. Saya... saya cuma melihat hujan." "Pasti kamu bosan terkurung di sini?" tanya Garda sambil menyandarkan punggungnya pada sebuah meja tinggi di dekat foto pernikahannya bersama dengan Rissa di sana. "Sejujurnya iya, tapi mau gimana lagi? Katanya Nyonya nggak boleh keluar rumah. Nggak tahu jadi apa juga tanaman-tanaman aku di luar sana." Dara tertunduk lesu. Dia menghela napas dan kembali mengusap perutnya tapi hanya dengan menggunakan ibu jarinya saja. "Kalau hujannya sudah reda, keluarlah. Cari udara segar. Stres juga tidak baik untuk kandungan," ucap Garda yang kemudian meninggalkan Dara ke lantai atas. Baru beberapa belas menit dan secara ajaib, hujan pun reda. Dan dari balkon tempat Garda duduk sambil memangku laptopnya, dia bisa melihat dengan jelas sebuah pergerakan di bawah sana. Dara, dia keluar dari dalam rumah dan langsung berhamburan ke arah taman kecil yang sudah susah payah ia tanami itu. Dara rapikan tanaman-tanamannya yang terbawa angin maupun terkena jatuhan air hujan. Garda yang tadinya hanya fokus pada laptopnya saja, kini malah memandang dengan lama terutama pada Dara yang kelihatan sibuk di bawah sana. Tapi saat Dara tidak sengaja melihatnya, Garda pun cepat-cepat menatap layar laptopnya lagi dan berpura-pura sibuk sendiri. Sementara Dara kembali merapikan tanamannya lagi. Setelah lewat sekitar dua puluh menit, Dara merasakan tetesan air hujan pelan-pelan mengenai tangannya yang sedang menyentuh daun-daun yang baru tumbuh itu. Garda yang mendengar suara gemuruh pada atap rumah itu pun segera menoleh ke arah Dara yang masih berada di bawah sana. Garda meletakkan laptopnya di atas meja dan segera bertengger di balkon kamar. "Dara! Ayo cepat masuk!" seru Garda dari dalam kamar. "Sebentar, Tuan! Ini baru aja tumbuh, kalau kena badai nanti bisa patah!" sahut Dara, suaranya timbul tenggelam di balik deru hujan dan ia terlihat sibuk menyelamatkan pot-pot bunganya di bawah sana. Garda mendengus kesal, namun ia tidak bisa hanya diam. Ia berlari ke bawah dan melangkah keluar, menerjang hujan lalu dalam sekejap kemeja mahalnya basah kuyup. Ia menarik lengan Dara dengan tegas. "Masuk, kubilang! Kamu bisa sakit, dan itu berbahaya untuk..." Garda menggantung kalimatnya. Ia hendak mengatakan "bayinya", namun saat matanya bertemu dengan mata Dara yang basah oleh air hujan, kata-kata itu tertelan kembali. Wajah Dara tampak begitu hidup, pipinya merona karena sisa tenaga, dan ada kilatan di matanya yang selama ini padam. Mereka berdiri sangat dekat di bawah guyuran hujan. Untuk pertama kalinya, Garda tidak melihat Dara sebagai "wadah", melainkan sebagai wanita yang begitu gigih menjaga kehidupan, sekecil apa pun itu. "Bahaya untuk apa, Tuan?" tanya Dara menantang. "Bahaya untuk... untukmu," jawab Garda pendek. "Tapi ini seru, Tuan. Boleh main hujan-hujanan sebentar lagi?" pinta Dara dengan bibir yang sudah kelihatan menggigil. Garda mengembuskan napas. Biasanya ia akan mengomel dan juga membentak Dara. Tetapi untuk yang kali ini, Garda tidaklah melakukannya. "Ya sudah. Silahkan saja!" cetus Garda yang tiba-tiba merasa tubuhnya terikat, karena saat ini Dara yang tengah melingkarkan kedua tangannya di tubuh Garda secara reflek. "Terima kasih, Tuan. Dara janji, habis ini Dara akan jadi penurut," ucap Dara yang kemudian melepaskan dekapannya dan berlari ke tengah taman sambil merentangkan kedua tangannya ke samping. Melompat kecil dengan riangnya dan terus berlari mengitari taman ini. Sementara Garda hanya diam terpaku menatap gadis yang jarang tersenyum itu dan bahkan lebih sering menangis juga termenung di dalam rumah. Sebuah lengkung senyuman tiba-tiba saja tercipta di bibir Garda, tanpa orang itu sendiri menyadarinya. Energi Dara seperti menular padanya. Dia hanya diam dibawah guyuran air hujan yang lama kelamaan membuatnya menjadi tenang. Pantas saja Dara begitu menyukainya. Karena air hujan... ternyata sangat menenangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN