Callista tersenyum meremehkan. “Ayah kamu bilang? Mimpi!” desisnya dengan tajam “Kamu bukan siapa-siapa dari bayi yang aku kandung. Kamu hanyalah orang asing bagiku. Karena…” Callista menggantungkan perkataannya. “Karena tidak ada seorang Ayah yang menginginkan buah hatinya tiada.” lanjutnya Deg Reynand membenarkan perkataan Callista. Bahkan dirinya sendiri waktu itu yang meminta Callista untuk menggugurkan kandungannya. Ia benar-benar laki-laki b******k. Karena hal itu Reynand bertekat untuk berubah. “Saya minta maaf!” lirihnya “Maaf? Percuma, karena kata maaf tidak bisa mengembalikan semuanya.” “Saya tahu Callista. Tapi bukankah setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah?” “—“ Callista memalingkan wajahnya. Memang benar setiap manusia memiliki kesempatan untuk beru

