1, Kungkungan penuh gairah.
"Kontrak kita sudah selesai, dan tidak ada hubungan apapun! Kamu hanya pembeli, dan aku menjual jasa! Bertindaklah secara profesional, dan aku datang bukan menjadi pelac*rmu! Aku datang sebagai calon istri Morhan!" Ariana berusaha memberontak, dan menolak apa yang akan lelaki itu lakukan padanya!
"Okay, whatever for this! I just feel, you're still my girl, and mine!" lelaki itu tampak sangat memaksa, dan ia memang sedari dulu begitu. Kedua tangan Ariana ia pegang, dan Ariana tentu kalah tenaga! Bukan menikmati, ia hanya tidak bisa melawan tubuh lelaki yang dua kali lipat besar tubuhnya daripada dirinya. "Mau menolak seperti apapun, aku tetap akan memasukan milikku, Baby! Dan kalau kamu tidak ingin kita ketahuan dari dini, maka bungkam mulutmu, dan tahan desahanmu!" ancam Jordi.
Ariana membelalakan matanya, ia menahan nafas saat benda besar yang sudah menegang itu memasuki miliknya dengan sangat dalam. Ia mendongak, dan mencoba untuk menahan suaranya.
Tapi... "Aahh! K–kamu memasukannya terlalu dalam! Aku sudah bilang kan, jangan terlalu dalam!" Ariana sampai sesak nafas. "Ah! Daddy! Jangan kenceng-kenceng! Milikku bisa robek!" Ariana memukul-mukul dad4 bidang Jordi saat lelaki itu hilang kendali!
"Kamu terlalu candu, aku tidak bisa menahan diri, Baby. Hangat, dan rapat!" lelaki itu bergumam tidak jelas, ranjang yang mereka pakai tampak naik turun tidak beraturan saat Jordi mulai memacu seperti pengendali. Tubuh Ariana tidak hanya dipermainkan di bawah dan dikuasai dalam Kungkungan kekuasaan Jordi, lelaki itu memaksanya melakukan hal yang kerap kali mereka lakukan.
Lelaki itu bak penunggang kuda yang handal, ia menarik rambut panjang Ariana, seolah rambut panjang itu adalah tali pengendali yang membuatnya makin semangat memacu.
Setelah tubuh mereka sama-sama bergetar hebat, akhirnya Jordi mengeluarkan semuanya dan menumpahkan semuanya di rahim Ariana.
Tubuh Ariana ambruk ke ranjang dengan keadaan telungkup, ia masih gemetaran saat menahan sisa percintaan yang sebenarnya ia tolak sebelumnya. Dad4nya terasa sesak, dan air mata mulai mengalir di ujung matanya. Akan tetapi... lelaki yang baru saja memaksanya tampak memakai pakaiannya dan pergi begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa!
Dan apakah yang sebenarnya terjadi? Apa hubungan mereka, dan apa yang membuat Ariana akhirnya tidak bisa berkutik?
***
3 jam sebelumnya...
"Ariana, aku berniat ingin mengenalkan kamu pada papa dan mamaku malam ini," ujar Morhan.
Ucapan dari Morhan membuat Ariana senang, tapi ia juga takut. Morhan menyadari reaksi dari kekasihnya, ia merasa Ariana mulai bingung dan mungkin sedikit takut.
"Ariana, kamu kenapa?"
"Morhan, aku takut..., aku takut mama dan papamu tidak menerima aku, karena aku—"
"Hust!" Morhan meletakan jari telunjuknya di bibir ranum Ariana. Ia menundukan kepalanya dan menyatukan bibir mereka, sebelum akhirnya menarik diri dan menatap Ariana dengan tatapan yang dalam. "Aku yakin, mereka akan menerima kamu. Kamu adalah wanita baik, mereka pasti akan suka."
Kata-kata itu terdengar menenangkan, akan tetapi tetap saja masih ada keraguan. Dan Ariana makin terkejut lagi setelah sangkekasih berkata...
"Kita akan ke rumah sekarang, dan kamu tidak perlu tinggal di rumah kontrakan penuh drama itu lagi. Tinggal saja bersamaku, karena sebentar lagi – aku akan memperistri kamu."
Ariana merasa bingung, tapi sekaligus bahagia. Matanya berkaca-kaca, dan gambaran sebuah kebahagiaan terlihat jelas di matanya. Ia berpikir, semua akan berjalan seperti itu, dan selalu akan seperti itu. Akan tetapi, saat ia sampai di rumah kekasihnya – semuanya berubah sekejap mata!
Ibu dari Morhan, Janeta Sesilia... Wanita paruh baya itu tampak memandang Ariana sinis. Tubuh Ariana mematung cukup lama saat berusaha saja bertemu dengan wanita itu.
Bibirnya membisu, lidahnya terasa kelu. "Jadi ini, wanita yang kamu maksud– Morhan? Mama tidak menyangka, tampilannya tidak jauh lebih baik dari yang aku duga."
Degh! Batin Ariana.
"Mah! Bukankah kita sudah bicara soal itu, dan aku mau mempertegaskannya pada mamah, Ariana akan tinggal di sini, dan aku tidak perlu lagi meminta izin pada mama untuk kedua kalinya. Karena mama sudah bertemu dengannya, maka aku akan membawanya menuju ke kamarnya sebelum makan malam." Morhan menarik tangan Ariana, dan Ariana hanya diam. Ia tidak tahu harus berbuat apa, dan ia juga sebenarnya bingung – apa yang sebenarnya terjadi!
"Morhan, bukankah tidak baik bila kamu bicara pada mamamu seperti itu?"
Pertanyaan Ariana membuat langkah kaki Morhan terhenti. Ia membalikan tubuhnya dengan cepat, dan setelahnya mulai menatap ke arah Ariana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa menurutmu, aku tidak mempertimbangkan semuanya?"
Ariana diam saat mendengar ucapan Morhan. "Tidak usah kamu pikirkan, Ariana. Ini kamarmu, dan sebentar lagi akan ada makan malam. Mulai sekarang kamu anggota keluarga ini, maka kamu harus datang. Pakaian sudah aku persiapkan di dalam, semoga kamu suka." Morhan mengecup kening Adiana secara singkat, sebelum akhirnya ia meninggalkan wanita itu tanpa banyak kata.
***
Waktu makan malam tiba....
Ariana datang dengan dress malam berwarna navy. Lekuk tubuhnya terlihat indah, wajahnya cantik dan menawan, bibir sexy itu tampak menggugah selera lawan jenis yang melihatnya.
Wanita berusia 26 tahun itu tampak sempurna dengan rambut berwarna hitam, bola mata indah berwarna coklat. Sempurna! Namun tidak bagi Jeneta Sesilia yang memandang dari segi harta!
Makan malam terlihat mewah, dan Ariana merasa sedikit canggung. "Tidak apa-apa, aku di sini." ujar Morhan sembari menggenggam jari jemari Ariana dan membawanya pergi dari sana.
Mereka melangkah bersama, duduk di kursi meja makan mewah itu dan menunggu. Ariana ingat betul, kekasihnya pernah berkata bahwa ia memiliki ayah tiri, dan mungkin mereka akan menunggu.
"Hidangan kali ini steak seperti biasa, apa kamu tau tata krama cara menyantapnya?!" tanya Jeneta sembari menatap tajam ke arah Ariana.
Ariana diam, membeku dan membatu, sebelum akhirnya ia menelan ludahnya kasar.
Hening seketika, sebelum akhirnya suara langkah kaki dari seseorang terdengar nyaring.
"Aku dengar ada anggota baru hari ini, dan apa benar itu?" tanya seseorang yang baru saja datang dan...
Degh! Batin Ariana saat ia merasa familiar dengan suara itu. Suara berat nan serak itu membuatnya menoleh cepat! Ia berharap orang yang ada di sana bukan orang yang ada dalam benak dan pikirannya, akan tetapi – ternyata ia kembali dihantam oleh kenyataan saat ia menatap seseorang yang ia kenal.
Untuk waktu yang bersamaan, mereka sama-sama terkejut saat menatap satu sama lain. Suasana yang tadinya dingin, kini terasa lebih mencekam bagi Ariana!
"Jadi, ini orangnya?!" ujarnya sembari sedikit menyeringai lebar!