Naya menghampiri suster kakeknya, dan memintanya untuk beristirahat. "Biar aku saja yang mengajak kakek jalan jalan," ucap Naya. Kemudian, ia mendorong kursi roda kakeknya ke halaman belakang. Indi mengikuti di samping Naya. "Kakek sarapan apa tadi?" tanya Naya. "Seperti biasa, sayur tanpa garam. Tidak enak sekali rasanya," ucap Ghufran. Naya hanya tersenyum, "Ya wajar saja, demi kesembuhan kakek." "Kakek tidak mungkin sembuh. Kamu tahu itu," Ghufran mulai mengeluh. "Jangan bicara begitu. Selama ini, kakek yang selalu menyemangatiku agar selalu positif thinking setiap kali menangani suatu kasus," Naya menyemangati kakeknya. "Tapi penyakit ini tidak ada obatnya," Ghufran menarik nafas panjang. "Kakek sudah tua juga." Indi menoleh ke arah Naya. Ia tidak enak hati mendengarn

