Naya menatap Indi sambil diam diam meremas jari jemarinya. "Ehm," Naya berdehem, "Kakek, maafkan aku, tapi hal ini sangat pribadi yang harus aku bicarakan terlebih dahulu dengan Indi." Inka yang memahami kecanggungan putranya langsung mengambil alih, "Papa, kita percayakan semuanya pada Naya dan Indi. Akan ada waktunya Naya menyampaikan kabar bahagia pada kita semua." "Tidak tidak," Ghufran menatap Naya. "Apa kamu menunggu kakek mati terlebih dahulu?" Naya menarik nafas dan tersenyum, "Kakek, aku mendoakan kakek selalu sehat dan panjang umur. Jadi tidak ada pemikiran seperti yang kakek ucapkan." "Seperti kata mama, biarkan aku dan Indi membicarakannya terlebih dahulu. Kalau ada kabar bahagia, aku pasti akan berbagi cerita," terang Naya. Ghufran terdiam beberapa saat, tapi kemudian

