Sena langsung merasakan kalau wajahnya merah padam. "A-apa iya?" Sena dengan gugup menjawabnya. "I-iya," Arfa mengambil coklat yang jatuh dan secara reflek memasukkannya ke dalam mulut. "I-itu kotor," Sena kaget. "A-aku lupa..." Arfa menggaruk rambutnya. "Tadi reflek." Sena tergelak. Ia tertawa, yang awalnya pelan, lama lama semakin keras. "Ke-kenapa?" Arfa bingung. "Di bawah itu berdebu... A-aku hanya lucu saja melihatmu makan coklat kotor," Sena akhirnya berhenti tertawa. Arfa akhirnya ikut tertawa. Keduanya kembali duduk di sofa. "Aku mungkin akan sakit perut sekarang," Arfa tersenyum. "Jangan salahkan aku," Sena duduk di sampingnya. Arfa kemudian mengeluarkan ponselnya ke arah Sena, "Mmm.. Apa boleh meminta nomor ponselmu?" Sena dengan malu malu mengambil po

