Gimana keadaan lo? -Azel “Nggak baik,” gumamku pelan. Lalu meletakkan kembali ponselku ke atas meja. Sejak tadi sore Azel terus menerus menghubungiku. Tapi tak satu pun panggilan teleponnya yang kuangkat. Aku tak sanggup berbicara dengannya. Bahkan hanya melihat nama Azel di ponselku membuat dadaku nyeri. Rasanya terlalu menyakitkan. Kupandangi jam dinding di kamarku. Detakannya lama-lama membuat kepalaku berdenyut sakit. Jarum jam kini menunjuk angka dua belas. Sudah tengah malam. Tapi, aku tak kunjung mengantuk. Mataku terasa sulit untuk terpejam meskipun badanku berteriak untuk mengajakku beristirahat. Kuraih ponselku kembali. Lalu kudial nomor Revan. Tak ada salahnya mengganggu Revan tengah malam begini. “Ya?” sapanya. “Hai, Rev,” kataku. “Lagi a