Aku menatap Aric dengan tidak percaya. Cowok itu kini tengah duduk di ruang tamu. Dia menatapku dengan kening berkerut. “Jadi ... Revan yang nyuruh lo ke sini?” tanyaku. Aku mengambil duduk di kursi tunggal di sebelahnya. Aric mengangguk. “Lo kan nggak harus bener-bener datang,” kataku merasa tidak enak sendiri. “Dia telepon gue tiap dua menit sekali, Lul. Bahkan dia ngehubungi gue lewat telepon rumah berkali-kali sampai ganggu orang rumah,” kata Aric dengan nada kesal. “Kakak lo gila kayaknya.” Aku tak tahu harus bereaksi apa. Revan memang gila. Berani banget gangguin orang sampai segitunya. Pantas saja Aric kesal. “Maaf ya, Ric. Revan gangguin lo,” ucapku merasa tak enak. Membuat Aric berkendara ke tempatku jam segini bukanlah masalah sepele. Apalagi kar