Bab 31

1214 Kata

    Kutatap langit-langit kamarku. Ada satu cicak tengah menempel di dekat lampu. Dari tadi dia diam saja di sana. Tak bergerak sama sekali. Hewan itu seolah mengamatiku. Mungkin dia menungguku untuk kembali menangis. Atau mungkin dia hanya sekadar ingin menemaniku saja. Atau bahkan sejak tadi dia diam-diam mengejekku.     “Kurang ajar!” teriakku kesal ketika melihat sesuatu berwarna hitam dan putih jatuh ke atas selimut di dekat kakiku. Seketika aku bangkit duduk, menatap cicak itu tak percaya. “Jadi lo dari tadi diam di sana tuh ngumpulin amunisi?! Beneran ngejek gue, lo?!” seruku marah.     Ponsel yang berada di atas nakas berbunyi. Kualihkan perhatianku dari hewan itu dan segera meraih ponselku. Lalu kulihat nama Azel terpampang di layar. Sejenak aku ragu untuk mengangkat panggilan d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN