Pagi datang tanpa suara. Cahaya matahari menembus celah tirai besar di kamar Jevan, menyentuh wajah pria itu dengan lembut. Jevan terbangun lebih dulu dari biasanya. Tubuhnya terasa berat, tapi pikirannya justru gelisah. Malam sebelumnya kembali berputar di kepalanya. Wajah Vania yang membeku di ruang tengah. Senyum yang hilang dari wajah gadis itu. Cara Vania berbalik tanpa berkata apa-apa. Jevan menghela napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya mengusap wajah, seolah ingin mengusir rasa tidak nyaman yang sejak tadi menempel. “Aku terlalu lelah,” gumamnya pada diri sendiri. Dia berdiri, merapikan piyama, lalu membuka pintu kamar. Rumah masih sunyi. Suara langkah kakinya terdengar pelan menyusuri lorong panjang lantai atas. Saat melewati kamar Vania, langkah Jevan melamba

